Diberdayakan oleh Blogger.

Besar dan Kecil Suatu Bangsa


posted by rahmat rahmatullah on ,

No comments

-->

Hanya bisa menggelengkan kepala saat berangkat ke kantor menyaksikan sebagian pengendara motor yang membonceng anak semaunya memacu laju dengan kecepatan tinggi. Mungkin hawatir telat, mengindahkan keselamatan pengendara lain dikala jalan padat. Seringkali anak yang di bonceng tidak dikenakan helm, mengambil jalan orang, melalui kendaraan lain dari sebelah kiri, yang pasti seperti pertunjukkan atraktif di tengah jalan.
Lain lagi sering juga kita jumpai pengendara atau penumpang mobil membuang sampah sekenanya dari dalam mobil, kadang juga meludah atau membuang botol kemasan. Sepintas dalam mobil tersebut tidak jarang kita lihat terdapat anak-anak.
Sama halnya jika kita ke super atau mini market, sudah lama mengantri rapi tak jarang dipotong oleh ibu-ibu yang membawa anak, atau tiba-tiba dihadapan kita sudah menaruh barang belanjaannya di kasir tanpa terlihat rasa sungkan atau malu.
Begituhalnya saat kita mengantri ATM atau juga di Bank, sudah lama kita bersabar dalam antrian, tiba-tiba ada yang memotong dengan mengungkapkan segala alasan, dan seringnya yang melakukan ini adalah ibu-ibu yang membawa anak.
Mungkin banyak hal atau peristiwa lainnya yang kita anggap janggal yang tidak bisa diilustrasikan satu persatu, tentunya hal tersebut terkait dengan sikap. Semua contoh diatas ada keterkaitan dengan anak. Anak memang dijadkan titik tekan dalam tulisan ini.
Semua orang sudah hafal istilah alah bisa karena biasa atau guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Tanpa sadar sikap orang tua sedang ditiru sepenuhnya oleh anak. Ketika orang tua membawa motor dengan kecepatan tinggi, sesungguhnya anak yang diboncengnya sedang meniru. Begitupula orang tua yang menyerobot antrean, ada anak yang sedang mengcopy perilaku tersebut. Pun ketika orang tua membuang sampah saat berkendaraan, ada anak yang sedang menginternalisasi perilaku tersebut.
Sungguh menjadi petaka saat orang tua tanpa sadar mencontohkan perilaku buruk. Wajar jika lalu lintas kita semrawut, banyak terjadi kecelakaan, karena sedari dini orang tua mengajarkan membawa kendaraan dengan sembrono, emosional dan egois. Wajar jika kita melihat berita TV terjadi kericuhan saat antrian pembagian zakat, BLSM, bantuan sosial, promosi produk dan lainnya, karena orang tualah yang mengajari perilaku ingin menang sendiri. Teramat wajar jika sampah berserakan dimana-mana, karena anak-anak diajarkan bukan membuang tetapi memindahkan sampah. Hampir seluruh tempat dihiasi sampah, jikapun bersih karena ada tenaga kebersihan yang tentunya mengeluarkan biaya untuk menggajinya. Toh akhir-akhir ini banyak kejadian akibat gunungan sampah telah memporak-porandakan suatu wilayah.
Bangsa ini telah kehilangan harta yang teramat besar, yaitu sikap hidup. Amat benar jika ada yang bilang jika letak perbedaan antara bangsa besar dan bangsa kecil adalah pada sikap hidupnya. Bangsa kecil terlalu sibuk dengan membangun kepercayaan diri, mengedepankan artificial/ simbolik, menonjolkan keunggulan pribadi, merendahkan martabat orang lain, dan bergelut dalam hal kuantitatif. Sedangkan bangsa besar mengedepankan kepentingan kolektif, kemajuan bersama, ketertiban umum, dan semangat kebangsaan, bukan lagi pada menonjolkan level individu.
Asal muasal miskinnya etika di negeri ini karena nilai awal yang ditanamkan pada anak-anak adalah hal-hal yang bersifa kuantitatif, ilmu hitung, ilmu logika, dan wujud fisik. Bukan tentang pembentukan sikap dan perangai, bagaimana belajar membuang sampah, belajar mengantri, belajar membersihkan sarana umum, belajar kemandirian. Yang sesungguhnya hal-hal kecil tersebut berpengaruh pada perangai ketika dewasa. Mungkin dianggap hal sepele, namun belajar tentang sikap walaupun melalui pendidikan pembiasaan mengantri mewujudkan memjadi pribadi yang tertib dan matang emosi saat dewasa.
Mungkin kita telah lupa, terlampau bernafsu mengejar hal besar secara fisik, dan meninggalkan hal kecil yaitu sikap yang sesungguhnya berdampak besar. Bangsa besar terbentuk karena karakter individu yang mengolektif menjadi sikap sebuah bangsa, yang kemudian mewujud menjadi bangsa yang bermartabat. Semoga kita bisa menjadi suritauladan dengan mencontohkan sikap yang elok.***

Leave a Reply

Sketsa