Diberdayakan oleh Blogger.

Ikuti Aturan Bukan Kebiasaan


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

-->

Judul diatas merupakan pernyataan Ignatius Jonan Direktur PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Pernyataan filosofis pimpinan yang menjadi motto, ruh, ritme dan sikap seluruh karyawan PT. KAI dalam melakukan perubahan. Konon dalam kurun waktu singkat dimulai dari motto tersebut telah jadi perubahan besar dalam manajemen PT. KAI. Perubahan yang pada mulanya merupakan momok besar karena akan berhadapan dengan onum-oknum yang sudah berada dalam zona nyaman, namun karena visi sudah menjadi ritme karyawan, kepimpinanan yang tegas, sebesar apapun hambatan, perubahan besar menyangkut pemangku kepentingan PT. KAI pada akhirnya terjadi.
Perubahan dalam manajemen PT.KAI berdampak besar pada perubahan layanan yang signifikan, kini stasiun tertata rapi, terdapat parkiran kendaraan, pedagang yang turut memperkumuh stasiun sudah tidaka ada, nuansa estetik mewarnai stasiun, angka kriminalitas menurun drastis, tiket dalam bentuk kertas sudah terganti dengan kartu sehingga program paperless terwujud.
Memang tidak mudah dalam melakukan perubahan, benturan besar bahkan konflik terjadi, kericuhan dalam penertiban pedagang terjadi hampir diseluruh stastiun, blokade lajur kereta api berulangkali dilakukan warga maupun pedagang, provokasi juga dilakukan oleh oknum yang terganggu kenyamanannya. Namun penegakkan filosofi menjalankan peraturan bukan kebiasaan dilakukan dengan penuh komitmen walaupun beresiko berbuah hasil.
Apa yang dilakukan dalam manajemen PT.KAI merupakan best practice perubahan dalam suatu lembaga yang dampaknya luas. Terlebih PT.KAI berkaitan langsung dengan aneka pemangku kepentingan (masyarakat, pedagang, dunia usaha, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dll). Satu kebijakan telah mewarnai hajat hidup orang banyak. Sangat elok jika apa yang dilakukan manajemen KAI dilakukan juga oleh institusi atau lembaga lain terkait pelayanan atau kebutuhan publik. Misalnya di kepolisian, di badan pertanahan, urusan pelayanan di pemerintah daerah, di Rumah Sakit, dan lembaga lain terkait pelayanan publik.
Kunci keberhasilan adalah kepemimpinan. Takkan punya gigi visi dibuat, misi diturunkan, program dan kegiatan dirancang, kebijakan ditetapkan jika tidak seiring dengan sikap kepemimpinan. Apapun yang tertulis hanya akan menjadi sampah jika pemimpin tidak memiliki nyali, tidak terpancar pada tindakan, tidak pasang badan melindungi bawahan. Salah satu kelemahan pemimpin yang ada di negeri ini hanya pandai dalam tatanan konsep namun lemah dalam tindakan. Terlebih jika merekalah yang berada dalam zona nyaman, sering terjadi malahan mereka yang pasang badan ketika terganggu, ibarat menepuk air dalam dulang yang membasahi muka sendiri. Amat penting memikiki pemimpin yang bersih, tidak memili cacat, berani dan konsisten dalam mengawal visi, bukan pemimpin yang lemah.
Walaupun sudah ada perubahan pada beberapa lembaga, namun akan menjadi luar biasa jika perubahan dilakukan secara berjamaah, secara kolektif, tidak hanya PT.KAI, PT.POS, tapi seluruh lembaga pemerintah melakukan hal yang sama. Dipastikan dampaknya akan luar biasa. Permasalahan di negeri ini sudah warga bersifat permisif (permakluman), pembolehan, bertolerasni atas pelanggaran, ditambah lemahnya penegakan aturan, maka yang terjadi adalah ketidakteraturan yang membuaday mengalahkan peraturan yang ada, sehingga motto yang saat ini mendarah daging adalah sebaliknya “Ikuti kebiasaan bukan aturan”. Akibat kebiasaan yang membudaya, berdampak pada sulitnya penegakkan aturan, hingga benturan terjadi di mana-mana bahkan berdarah-darah.
Saya berkeyakinan jika perubahan dilakukan secara kolektif, dari pusat hingga daerah makan akan ada perbaikan perilaku masyarakat, aka nada kultur baru yang menjadikan masyarakat berada dalam keteraturan, tertib dan disiplin. Misalnya jika peraturan lalu lintas ditegakkan tanpa diskriminasi, tidak ada pimpinan polisi ataupun aparat yang bermain, dipastikan lalu lintas lancar, berkurangnya angka kecelakaan. Bagitupula jika aturan di rumah sakit ditegakkan, maka tidak akan ada perawat yang ketus, mal praktik, pasien yang terlantar, yang meninggal karena terlambat dalam penanganan. Pun begitu jika peraturan pertanahan ditegakkan, tidak dipersulit oknum, maka kepemilikian sertfikat tanah akan progressif, dan aneka contoh lain yang kita impikan terkait ketaraturan akan terwujud. Semoga muncul Ignatius Jonan lainnya di negeri ini, yang turut mewarnai perubahan menuju kebaikan masyarakat.***

Leave a Reply

Sketsa