Diberdayakan oleh Blogger.

Daun Cincau dan Kehidupan


posted by rahmatullah on ,

No comments

-->

Minggu sore jelang magrib saat duduk membaca buku di depan rumah, ada seorang bapak mengenakan batik kumal mengucapkan salam berulang kali. Saya kira pengemis atau orang yang menanyakan alamat. Saat saya hampiri bapak tersebut tiba-tiba menyodorkan uang Rp. 12.000, beliau bilang “Bapak mau beli daun cincau di belakang rumah”, saya tanya “Sudah Bapak petik?” beliau jawab “Belum biar uangnya dulu, maaf mohon diterima gak seberapa”. Lalu beliau menyodorkan uang sembari bersalaman dan melempar senyum. Lalu saya bilang “Silahkan Pak dipetik secukupnya”.
Lalu saya masuk kedalam rumah menyerahkan uang Rp. 12.000 tersebut kepada Ibu, lalu Ibu menanyakan uang apa? Saya ceritakan jika ada yang memborong daun cincau. Kakak saya kebetulan nimbrung “Kenapa diterima uangnya? Toh kita gak butuh daun cincau, itung-itung sedekah, kagum kalau ada orang yang mau berusaha menyambung hidup, daripada kebanyakan orang mengemis gak mau kerja keras”. Lama saya menjawab pertanyaan beliau, sambil otak berputar, iya juga kenapa gak digratiskan aja, atau dikurangi, lamunan diiringi penyesalan. Lalu tercipta jawaban “Bapak itu yang langsung menyodorkan uang 12 ribu, saya gak minta dan gak matok harga. Lagian gak papa itung-itung memberdayakan, kecuali kita matok harga”.
Menjelang malam saya tetap melamunkan kejadian tadi sore, aneka hal terkait bapak pencari daun cincau. Sebagai seorang pencari nafkah, saya juga membayangkan betapa luar biasanya bapak tersebut berjalan kaki mencari dimana daun cincau berada, hingga menjelang magrib dalam upaya menyambung urusan perut. Terbayang jika sampai magrib tak bertemu daun cincau bagaimana dengan urusan dapur bapak dan keluarganya esok dan lusa, bagaimana sedihnya seorang pencari nafkah ketika hal yang diharapkan tak didapat. Hal besar yang saya kagumi adalah mengenai kejujuran, jikapun mau bapak tersebut tinggal mengambil daun tanpa izin sebanyak mungkin, karena menjulur diluar pagar rumah. Tapi beliau memilih akhlak mulia mendatangi, memohon izin dan menunaikan kewajiban uang sebagai tanda sah jual beli.
Terkadang pikiran dan hati ini mendramatisir situasi, yang berkecamuk adalah jika berganti posisi bapak itu adalah saya, berburu daun cincau demi menghidupi keluarga dalam kondisi tak pasti. Tak pasti karena mencari daun cincau bukan perkara mudah, karena saat ini mulai jarang ditemukan di hutan maupun di kebun, jikapun ada belum tentu diizinkan oleh si empunya pohon, jikapun djual bisa jadi ditawar dengan harga yang tinggi. Karena sukar, tidak jarang mereka yang pragmatis menjual cincau sintesis.
Entahlah saya mencoba menghibur diri mudah-mudahan apa yang saya lakukan walau hanya menerima uang dan mengizinkan bapak tersebut memetik daun cincau sudah membantu. Sedikitnya membuat tersenyum bapak tersebut karena harapannya terwujud mendapatkan daun cincau menjelang magrib, mudah-mudahan bisa menyambung hidup keluarga saban beberapa hari kedepan dari menjual cincau.
Interaksi saya dan Bapak tersebut tak sampai 5 menit, namun ada pelajaran hidup yang saya dapat. Belajar bekerja keras menjemput rizki, belajar kejujuran, serta belajar lapang dan tersenyum dalam menghadapai hidup.***

Leave a Reply

Sketsa