Diberdayakan oleh Blogger.

Menjadi Abah


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Per-Bulan September ini saya merasakan betul menjadi abah (ayah) bagi Aiman. Bagaimanapun saya dan istri sedang menjalankan rencana yang telah dibuat dan disepakati. Genap usia Aiman 2 (dua) tahun kami programkan istri melanjutkan sekolah di kampus lamanya di Kota Depok. Saban minggu hari  kamis jam 4 subuh istri berangkat menuju Depok, menginap di orangtuanya dan sabtu malam baru pulang kembali ke Pandeglang. Harapan kami adalah kelak istri menjadi pengajar (dosen) bukan semata mencari uang tetapi mengabdi, berbagi ilmu, melanjutkan eksistensi serta menjalin silaturahmi, namun waktu utamanya tetap untuk Aiman.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang harus dijalani. Istri memiliki ritme baru, mengasuh, mengerjakan tugas dan ngampus dengan jarak yang cukup jauh antara Pandeglang -Depok. Kalau dibilang capek tentunya amat capek untuk menuju depok naik bis/elf dari pandeglang, lanjut shalat subuh di Kota serang, lanjut naik elf menuju Mal  Taman Anggrek, naik Busway hingga Stasiun Cawang, dan diakhiri dengan naik kereta di stasiun UI, demi mengejar perkuliahan jam 8. Ujian berikutnya adalah kondisi letih dan ngantuk. Sedangkan jumat dan sabtu menginap di orangtua daerah Ciledug. Dan komitmen saya dan istri semua tugas harus diselesaikan selama ia di Depok dan Ciledug, saat kembali ke Pandeglang sudah harus fokus ngasuh anak dan nyuci pakaian yang bertumpuk, walaupun kenyataannya banyak tugas susulan yang harus dikerjakan sambil ngasuh Aiman.

Kebetulan saat ini rumah di Serang kami kosongkan dan boyongan ke Pandeglang merapat dengan Ibu, jadi saat Aiman ditinggalkan Ibunya tiga hari, neneknya yang turut mengasuh Aiman. Inilah point mengapa menuliskan “Menjadi Abah”, karena saya pun tidak ingin mengalihkan pengasuhan aiman ke sepenuhnya ke Ibu, karena bagaimanapun Ibu sudah sepuh dan saya sebagai Abah harus tetap ada untuk Aiman. Jadi sepulang kantor secepat mungkin saya mengasuh Aiman, menyuapi, memandikan dan memeluknya saat tidur. Biar iBu menemani Aiman saat bermain saja.

Menjadi Abah walau 3 hari rupanya tidak mudah. Awalnya saya dan istri membayangkan bagaimana dengan respon Aiman saat harus ditinggal ibunya sekolah selama 3 hari tiap minggu. Karena selama ini istri adalah Ibu rumah tangga yang tidak pernah meningggalkan anak. Bayangan selanjutnya, apakah Aiman akan tidur tanpa ibunya, bagaimana jika tiba-tiba teringat ibunya, apakah akan histeris, bagaimana makannya, bagaimana jika ia pub, dan sebagainya. Namun dalam hati saya ada keyakinan jika Aiman adalah anak yang tenang, sebagai namanya panjang yang saya sematkan Dhiaurrahman, dan selama ini doa yang kami panjatkan agar ia menjadi anak yang paham keadaan.

Alhamdulillah sudah tiga pekan berjalan menjadi Abah, Aiman sangat paham keadaan, bening sekali hatinya. Walaupun saat ini ia memang agak pemalu apalagi pada yang belum begitu kenal/ dekat (hehe mungkin sifat turunan abahnya). Sebelum berangkat kekantor saya suapi dan mandikan Aiman, biar ketika saya tinggal ke kantor main dengan neneknya. Saat pulang kantor saya mandikan dan suapi aiman. Dan malam saya tidurkan Aiman. Begitu ritme saat ditinggal Ibunya.

Hal yang paling saya syukuri adalah saat ditinggalkan ibunya berangkat dia tidak menangis dan ikhlas melepas. Begitupun saat saya berangkat ke kantor Nampak memang wajah sendu, namun ia tidak menangis dan menyadari jika ia harus ditemani neneknya. Sesekali memang ia menanyakan ibunya pada nenek dan malah ia yang menjawabnya sendiri “Mamah lagi nyari ilmu sampai dapat”, “Abah lagi nyari duit buat beli popok”. Sayapun tidak tahu ia punya kalimat sendiri seperi itu darimana. Saat dimandikan ia patuh, saat disuapi ia juga tidak berontak (kecuali saat gak mood), dan saat ditidurkan tinggal dikipasi. Urusan ditidurkan ini adalah hal yang unik, biasanya jika Aiman dibersihkan dengan air sehabis pipis/ pub ia langsung tertidur pulas walaupun belum mengenakan pakaian, terkadang trik kami agar aiman cepat tidur ya dibersihkan/ dibilas dengan air, hehe. 

Hal yang menarik saat ini Aiman sangat lihai bercakap, sering  membuat idiom atau kata-kata khasnya sendiri, dan pandai dalam meniru. Hal yang ia sukai kini adalah segala yang berbau bendera merah putih dan garuda pancasila, jika ada hal terkait itu ia amat senang, selain juga menyanyikan lagu nasionalisme, walaupun ngajinya sekarang macet di surat Al-Maun. 

Alhamdulillah saya sangat bangga dan teramat bahagia saat menjadi Abah, saat menggantikan peran ibunya ketika sekolah, saat harus membersihkan pub-nya, saat memandikan, saat menyuapi, saat bermain, apalagi saat  memeluknya untuk tidur. Bagaimanapun kebahagiaan terbesar adalah saat Aiman peka dan paham apa yang sedang dilakukan, dan dihadapi abah mamanya. Tetap menjadi anak shalih yang indah perangainya nak...

Leave a Reply

Sketsa