Diberdayakan oleh Blogger.

TILANG SAJA PELAJAR


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Kita memang bangsa permisif, yang semua hal bisa diselesaikan dengan kata maklum, mohon dimengerti, mohon dipahami atau sedang terdesak. Aturan yang ada hanya menjadi macan kertas, selepas diketuk palu untuk ditetapkan, lalu dicetak dan didistribusikan, selanjutnya hanya menghiasi meja atau lemari buku di kantor-kantor, nihil implementasi. Padahal anggaran yang dikeluarkan untuk membuat aneka aturan entah itu Peraturan Walikota/ Bupati, peraturan lembaga, hingga Undang-Undang mulai draf, penetapan, hingga sosialisasi, bisa mencapai puluhan, ratusan bahkan miliaran rupiah.

Contoh sederhana bagaimana aturan dilanggar namun didiamkan adalah, bagaimana para pelajar begitu bebas menggunakan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Mereka yang berseragam putih biru sudah pasti melanggar aturan lalu lintas, juga sebagian besar mereka yang berseragam putih abu-abu karena rentang usia anak SMA (16-18 tahun), dan jikapun mereka memiliki SIM belum tentu ditempuh prosedur yang benar, karena saya yakin mental mereka belum bisa bertanggungjawab di jalan.

Bagaimana kita merasakan hiruk-pikuk semrawutnya lalu lintas pagi, saya katakan pelajarlah yang paling menyumbang semrawut dan kecelakaan. Pelajar hanya bisa mengendarai tanpa siap bertanggungjawab, ketidakmatangan mental mereka yang biasanya mencelakai pengendara lainnya. Kenapa demikian?. Coba lihat standar kendaraan yang mereka gunakan, rata-rata sudah dimodifikasi, mulai dari knalpot, mesin, velg, stang yang sudah pasti diluar takaran keselamatan pabrikasi. Kelengkapan keselamatan pun mereka indahkan, hal utama adalah helm, sebagian diantara mereka tidak mengenakan helm apalagi penumpangnya. Hal yang paling utama adalah mental yang belum siap, bagaimana kita rasakan setiap pagi di jalan kita dipepet dan dibalap mereka, entah karena mengejar agar tidak terlambat masuk kelas, yang pasti sangat mengancam keselamatan dirinya dan pengguna jalan yang lain. Justru keliru jika ada anggapan dengan menggunakan kendaraan pribadi kesekolah tidak akan telat masuk sekolah, malah dengan adanya kendaraan, mereka berangkat diwaktu yang mepet, menggeber kecepatan, asal bisa sampai sekolah.

Mentalitas anak sebetulnya dipengaruhi dua pihak, yaitu orangtua dan aparat. Karena orang tualah yang melegalkan bahkan mengajarkan anaknya melanggar aturan dengan membiarkan mereka mengendarai kendaraan bermotor padahal belum memiliki SIM. Asumsi orangtua agar anak tidak terjebak macet sungguh keliru karena asumsi itu digunakan oleh ribuan orang tua yang malah memperarah kemacetan. Kendaraan pribadi bukan salah satu solusi menghindari kemacetan, bukankah persiapan berangkat lebih pagi lebih tidak mebahayakan nyawa anak akibat tergesa-gesa. Rusaknya bangsa salah satunya sikap permisif yang dimulai dari rumah, permakluman-permakluman melanggar aturan yang dimulai dirumahlah yang pada akhirnya membuat anak-anak muda zaman sekarang abai aturan, abai sopan santun, mengindahkan segala nilai dan etika, yang penting sampai tujuan, masa bodoh akan proses yang baik dan benar.

Mangapa aparat, khusunya kepolisian, karena mereka adalah penegak dan penjaga marwah peraturan lalu lintas. Jika memang kepolisian ingin menurunkan angka kecelakaan lalu lintas, gampang saja tinggal menegakkan aturan lalu lintas, tilang semua pelajar yang melanggar, matangkan mental meraka yang telah memiliki SIM agar bisa bertanggungjawab dalam berkendara. Tanpa harus banyak pertimbangan, kepolisian langsung saja tegakkan aturan penilangan jika menemui pelajar berseragam SMP yang sudah pasti tidak memiliki SIM dan pelajar SMA yang sebagian besar tak ber-SIM. Tegakkan aturan tanpa pandang anak siapa mereka, tapi menggunakan cara andragogik, dengan memberikan pemahaman, bukan membuat mereka takut melainkan faham dan sadar  pentingnya mematuhi aturan.

Bagaimanapun pelajar adalah aset bangsa yang teramat mahal, jangan sampai mereka cacat lalu pupus harapan masa depan, apalagi jika harus kehilangan nyawa hanya karena kecelakaan dijalan. Dengan mengizinkan anak berkendara sesungguhnya orangtua sedang mencelakai anak. Dengan membiarkan anak melanggar aturan lalu lintas, seseungguhnya kepolisian sedang abai dan tidak bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya.***

Leave a Reply

Sketsa