Diberdayakan oleh Blogger.

INILAH HIDUP


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Sengaja dalam tulisan kali ini saya kisahkan tentang 3 (tiga) ujian kehidupan yang sedang dihadapi orang terdekat, minimal dari tulisan ini tertutur rasa syukur atas nikmat yang Allah anugerahkan, baik nikmat kesehatan, pekerjaan dan terbentang luasnya pintu untuk terus berbuat baik.

Dua hari lalu datang seorang ibu ke ruangan kerja kami, beliau menemui atasan saya untuk mengisahkan masalah yang dihadapi. Ibu tersebut bercerita jika ia sedang membutuhkan biaya Rp.800 ribu untuk menyelesaikan administrasi ‘tunggakan’ sekolah anaknya yang duduk di kelas 3 SD sederajat pada sebuah pesantren. Jika urusan administrasi tersebut tidak diselesaikan, maka anaknya tidak bisa pulang saat liburan. Ibu tersebut berjanji jika dipinjami akan mencicil pembayaran uang yang Rp.800 ribu tersebut kepada kami.

Pada mulanya saya dan pimpinan agak bingung menanggapi cerita sang Ibu, karena mimik yang anggun, tata bahasa dan gesture menunjukkan orang terdidik, memang Ibu tersebut mengenakan pakaian sederhana walau tidak tampak aura ‘orang susah’. Sepertinya beliau menangkap wajah bingung kami kemudian bersambung cerita, jika ia sudah bercerai dengan suaminya karena faktor keyakinan, Ibu tersebut mengaku menikah dengan ‘orang seberang’ dimana pada saat menikah dengan tata cara Islam, namun dalam perjalannya sang suami pindah kembali ke Agama semula, dan si Ibu teguh berkeyakinan lebih baik bercerai jika mengikuti keyakinan suaminya. Hingga saat ini memiliki anak 3 orang anak, yang tertua ikut si Ibu namun belum mandiri, anak kedua Ikut suami dan telah di baptis, dan anak ketiga yang diceritakan diatas “diselamatkan” si Ibu sehingga dari dini dimasukan kedalam pesantren. Kekhawatiran sang Ibu, jika urusan administrasi sekolah tidak bisa ia selesaikan, hawatir dijadikan alibi mantan suami untuk mengambil hak asuh anak ke-3, sebagaimana yang terjadi pada anak ke-2.

Namun demikian masalah yang dihadapi Sang Ibu kian kompleks, ketika kondisi ekonomi limbung karena memang sedari awal beliau berstatus Ibu Rumah Tangga (IRT) yang kesemuanya dinafkahi suami, sejak bercerai beliau menanggung semua beban ekonomi keluarga, dihadapkan pada biaya sehari-hari yang tak menentu, biaya sekolah anak, dan juga sewa tempat tinggal. 

Sebelum ke kantor kami, beliau juga bercerita begitu sulitnya mendapatkan surat keterangan miskin dari RT/RW dan kelurahan walaupun pada akhirnya bisa beliau dapatkan, entah mungkin karena faktor tidak percaya jika Ibu tersebut sedang jatuh miskin. Pada akhirnya tempat kerja kami berupaya membantu dengan membukakan akses agar mendapatkan biaya mengatasi urusan administrasi sekolah anaknya, membukakan akses pelatihan wirausaha Ibu tersebut dan akses lanjutan pendidikan jika pada akhirnya anaknya putus sekolah.

Lain kisah, dua pekan lalu, tetangga menelepon menanyakan apakah rumah kami dikontrakan atau tidak? Sudah berjalan tiga tahun rumah yang kami tinggali di kontrakan dan memang saat tetangga tersebut menelpon dalam kondisi kosong. Saya sampaikan dikontrakan dan tetangga tersebut bilang siang ini mau mengisi kontrakan namun baru bisa membayar di akhir bulan. Lalu saya bertanya memang rumah yang ia tempati kenapa sehingga mau mengontrak di tempat saya? Singkat cerita tetangga tersebut bilang bahwa rumah yang ia tempati akan dijual kakaknya karena urusan piutang, sehingga ia harus segera keluar dari rumah tersebut.

Saat istirahat kantor saya pulang dan berniat memberikan kunci, secara kebetulan tetangga yang ingin mengontrak rumah sedang beradu mulut dengan kakaknya dan di rumah yangia tempati telah tertulis dengan pilox“ Rumah ini Dijual cepat Hubungi nomor…” Tak lama berselang TV yang ada di rumah tetangga diambil kakaknya, sampai terdengar suara istrinya menangis meraung-raung hingga terdengar warga sekitar.

Setelah kakaknya pulang, tak lama tetangga tersebut menghampiri rumah kami dan menanyakan kembali apakah bisa mengambi kunci kontrakan untuk segera  ia isi, sambil bercerita jika saat ini sedang berada dalam titik nadir hidup, terlibat piutang secara tidak langsung dengan kakaknya dimana ia menjadi perantara seseorang untuk berbisnis dengan modal dari kakaknya namun dalam perjalanan waktu, keseluruh modal dibawa kabur seseorang yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya, yang pada akhirnya untuk jaminan, kakaknya menyita dengan menjual rumah dan barang berharga yang ia miliki. Saya menjawab mohon waktu untuk membicarakan dengan istri terlebih dahulu.

Disatu sisi saya sedang membutuhkan biaya untuk pembayaran SPP kuliah istri yang jumlahnya tidak sedikit, dilain pihak saya agak hawatir dengan prospek tetangga yang akan mengontrak rumah karena dalam kondisi terlilit hutang. Secara kebetulan diwaktu yang bersamaan sudah ada pihak lain yang siap mengontrak rumah untuk kurun waktu satu tahun langsung dibayar kontan, jika dinominalkan sangat membantu menambah biaya SPP kuliah istri. Namun hati kecil saya tetap bicara lantang jika saya harus membantu mereka yang sedang jatuh, untuk tidak komersil, untuk menguatkan mereka yang sedang tidak berdaya. Ditambah keyakinan istri jika kita menolong orang yang butuh, Allah akan menolong kita dari jalan yang tidak terduga. Batin sayapun teriak bagaimana jika posisi dibalik saya yang membutuhkan kontrakan dan tidak ada yang membantu. Pada akhirnya saya putuskan Bismilllah lalu menyerahkan kunci rumah ke tetangga, silahkan dissi, dirawat dan dijaga sebagaimana rumah sendiri, urusan bayar kontrakan telat-pun tak masalah, yang penting ada bahasa.

Cerita terakhir tentang ujian kehidupan rekan kantor yang sedang menghadapi kondisi kesehatan istrinya. Enam bulan lalu, Sang Istri terkena stroke dan sebelah badan tidak bisa digerakan, singkat cerita dalam kondisi yang lemah hasil general check up menunjukkan disamping stroke ada dua penyakit gawat lain yang sudah akut, diantaranya kanker pada rahim yang sudah stadium akhir dan juga pencernaan yang tidak sempurna. Usia sang Istri 50 tahun, mungkin bisa disebut masa emas ketika giat mengabdikan diri sebagai guru.

Lirih  rekan kantor menceritakan bahwa babak hidupnya sudah habis harapan, sudah tidak ada mimpi, yang ada hanya menjalani proses. Beliau bertutur jika harta hasil jerih payah berupa tanah dan rumah sudah dijual untuk pengobatan istri yang tergolek lemah untuk proses operasi dan kemotrapi. Dilain pihak secara jujur beliau bercerita jika pengobatan yang dijalani pada dasarnya bukan untuk kesembuhan, hanya menjaga harapan hidup, beda hal jika pengobatan untuk kesembuhan, karena beliau sadar hanya mujizat yang  Maha Kuasalah yang bisa menyembuhkan. Dilain pihak tuntutan pekerjaan harus tetap terlaksana, menguliahkan kedua anak juga tetap harus berjalan. Harapan beliau adalah agar ia tetap sehat tetap bisa merawat dan menjaga istri, walaupun irama idealnya rumah tangga sudah buyar, tidak ada minum dan makan yang terhidang, tidak ada yang mencucikan dan menyetrikakan baju dan segala hal ihwal rumah tangga lainnya. Diakhir kisah saya hanya bisa mendoakan agar beliau tegar dan senantiasa dianugerahkan kesehatan.

Inilah hidup, kita tidak pernah tahu kapan diatas dan kapan dibawah. Dalam benak saya semua akan dipergilirkan dan akan diuji, mungkin saat ini Sang Ibu, tetangga dan rekan kantor yang sedang dalam titik nadir, mulai dari ujian menjaga keyakinan, kehormatan, piutang hingga kesehatan. Mungkin esok lusa kita yang akan diuji dengan topik berbeda. 

Namun pertanyaannya lantas siapa yang akan menolong kita, jika saat ini kita diberikan peluang dan kesempatan menolong lantas acuh, abai, komersial dan kehilangan rasa empati. Betapa pedih jika objeknya adalah kita, lantas betapa perihnya jika tidak ada seorangpun yang membantu. Prinsip saya saat ini adalah berupaya membantu dengan apa yang kita mampu, jika yang kita punya adalah akses, maka bukakanlah akses, jika dana dan kita mampu maka berikan, jika fasilitas, maka gunakan, namun dalam konteks memberdayakan. Hal yang jangan sampai terjadi adalah sebagaimana bahasa Al-Quran kita melihat, mendengar namun mata hati kita sudah tertutup, sehingga penderitaan orang lain kita abaikan.

Saya senantiasa ingat prinsip kenabian, dimana Rasulullah meneladani umatnya dengan “Menjadi pemimpin utama, juga anggota utama”, hal ini sudah saya ulas dalam tautan ini: http://www.rahmatullah.net/2011/11/pemimpin-utama-juga-anggota-utama.html. Konsep nabi adalah suritauladan, Beliau katakan apa yang beliau lakukan. Hal yang selalu beliau ajarkan adalah tentang prinsip hidup empati, beliau selalu mengajarkan kesederhanaan, kesahajaan, menyesuaikan dengan kondisi kaumnya. Rasulullah kaya, teramat mampu secara ekonomi namun dalam sejarah hidupnya tidak pernah sekalipun menonjoklkan bahkan memerkan harta yang iamiliki, karena risalah dan pesan beliau hingga meninggalnya adalah tentang kesederhanaan dan empati. Semoga kita tetap bisa menjadi penjaga amanah beliau yang senantiasa ringan membantu mereka yang lemah dan sedang ditimpa musibah.***

Leave a Reply

Sketsa