Diberdayakan oleh Blogger.

CSR Itu Aksi Bukan Teori


posted by rahmat rahmatullah

No comments



Bedanya pengamat dan praktisi adalah persoalan rasa. Jika pengamat cenderung bicara berdasarkan isi buku dan teori minus pengalaman, sehingga terkadang solusi atas persoalan yang dikonsultasikan tidak implementatif. Beda halnya dengan praktisi, apa yang diungkapkan adalah apa yang dirasa, minim teori namun pada umumnya tepat guna. 

Saya mengalami dua fase tersebut saat menekuni dunia CSR, yakni saat menjadi pengamat dan saat menjadi praktisi. Saat menjadi pengamat hanya merujuk ilmu di perkuliahan ditambah referensi buku, saya mengalami masa bicara berbuih mengutarakan aneka konsep dan teori CSR yang rupanya hal tersebut tidak meyakinkan pihak lain karena berbicara minus pengalaman. Menyadari kondisi tersebut, rupanya pengalaman berperan penting ketika saya bekerja sebagai CSR asisstant pada perusahaan multinasional Palm Oil di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Mengelola CSR dari titik nol yakni kondisi pembukaan lahan (land development). Para pekerja CSR menyepakati bahwa pekerjaan terberat mengelola CSR dalam perusahaan apapun adalah fase land development, karena pada fase itulah perusahaan membuka lahan, belum ada kantor, belum ada tempat tinggal, persentuhan awal dengan masyarakat sekitar, pemetaan awal kewilayahan, pemetaan potensi maupun masalah beserta konflik. Tantangan lainnya adalah minimnya dana, karena perusahaan menyadari bahwa fase land development adalah fase menanam (investasi) dan belum menuai keuntungan, sehingga anggaran CSR sangat minim, kondisi tersebut menantang saya untuk bekerja kreatif dan inovatif membuat program minim anggaran.

Saya bersyukur mengalami fase ‘cadas’ tersebut, karena persoalan yang menumpuk justru menguji ketahanan dan kemampuan kita. Aneka pengalaman saya rasakan mulai ancaman akan di bunuh preman kampung, saat harus menyelesaikan masalah karayawan kumpul kebo, saat kendaraan operasional kantor dan kontraktor disandra, saat jalan di blokir, saat menghadapi demo warga dan aneka persoalan lain yang harus diurai satu persatu. Disisi lain persoalan batin mendera, ketika berada jauh dari keluarga.

Hal yang menarik adalah rupanya tidak semua teori yang kita pelajari di bangku kuliah dan buku bisa diimplementasikan di lapangan, hal yang menentukan adalah improvisasi kita saat melihat mana yang cocok dan mana yang perlu disesuaikan. Pengalaman lapangan itulah justru yang memperkaya rasa dalam melihat suaru persoalan, sehingga saat ada yang membutuhkan solusi, pengalaman yang kita alami dan konsep yang kita ketahuilah yang menuntun kita menemukan jawaban.

Kolaborasi pengamat dan praktisi sengaja saya tuangkan dalam buku “Panduan Praktis Pengelolaan CSR”,  di buku itulah saya padukan antara konsep dan praktik lapangan, bagaimana melakukan tahapan pemberdayaan, bagaimana membuat code of conduct, bagaimana melaksanakan CSR internal dan eksternal, bagaimana membangun basis data dan sebagainya.

Berikutnya setelah pensiun di lapangan mengelola CSR, rasa haus akan pengetahuan saya perdalam kembali di bangku kuliah, sengaja linearitas akademik keilmuan CSR saya perdalam untuk memahami CSR secara makro, saya kaji tentang relasi pengelolaan CSR antara pemerintah daerah, perusahaan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) saya petakan masing-masing peran pemangku kepentingan, mana yang pragmatis, mana yang sungguh-sungguh mana yang memberikan dampak dan mana yang tidak. Pengalaman tersebut saya tuliskan kembali dalam buku “Best Praktis Kemitraan CSR Antara Pemerintah, Perusahaan dan LSM”.

Mengapa saya tuliskan dalam buku, karena pengalaman harus dicatat dan dijadikan sebagai rujukan. Satu  hal yang menyemangati saya untuk menulis buku maupun dalam website karena kewajiban manusia adalah untuk berbagi ilmu yang diamanahkan, untuk apa titipan Illahi kita simpan rapat karena ilmu yang dibagikan tidak akan habis, dan ilmu tidak melulu ditakar dengan materi.***
 Potret Kemiskinan Warga Setempat, Foto yang saya unduh ini rupanya banyak dijadikan rujukan tentang potret kemiskinan (namun mengunduh tanpa menyertakan rujukan)
Salah satu rumah guru yang perlu mendapatkan sentuhan dan perhatian
 
Pengajar di SD ini hanyalah lulusan paket C, kerelaan mereka mengajar menggugah saya untuk turut mengajar di Hari Sabtu, minimal membuat anak-anak memiliki semangat untuk melanjutkan sekolah.

 Proses evakuasi karyawan dan warga yang terkena banjir
 Proese pengenalan budaya dan kerajinan, pengolahan kayu ulin menjadi sirap (genting), kayu ulin bisa berumur puluhan tahun, semakin terkena air semakin kuat. Kayu ulin kian langka karena baru bisa ditebang jika sudah berumur pulihan tahun. Disisi lain miskin pembudidayaan,
 Menghadiri pernikahwan warga, menggunakan adat banjar
 Salah satu tantangan menyelesaikan blokade jalan oleh warga, perlu pendekatan halus dalam mengatasi persoalan ini karena perusahaan harus mengakhui berkontribusi pada kerusakan jalan
 Upaca Usir Hantu, adat ini dilaksanakan warga saat akan mengisi rumah, hal ini dilakukan saat akan peresmian long house (tempat tinggal karyawan)
 Dimanapun bisa menyelasaikan persoalan, termasuk di jalan, tanpa kertas tanahpun jadi
 Salahaa satu kebahagiaan saya saat mengelola CSR adalah melaksanakan CSR internal dengan mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) khusus bagi karyawan
 Anak-anak saat bermain di TPA dengan fasilitas yang masih alakadarnya
 Pembangunan jembatan dengan konstruksi Kayu Ulin
 Familiarisasi dilakukan dengan mengadakan lomba catur antara karyawan ekspatriat dengan warga dan karyawan
 Berpose bersama Paman Adung, pembekal (Kepala Desa) setempat
 Salah satu yang menarik walaupun di pedalaman kalimantan, tapi baju pernikahan ala barat
 Membangun Sinergi Bersama Camat
 Membangun Sinergi Bersama Muspika
Mengajar Sesi Inspirasi

Leave a Reply

Sketsa