Diberdayakan oleh Blogger.

Pembangunan Minus Perubahan Perilaku


posted by rahmatullah on

No comments



Jika kita lihat, apa yang sesungguhnya tidak dibangun oleh negara dan berapa biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya. Tentunya ratusan hingga ribuan triliun yang dikeluarkan untuk anggaran infrastruktur dan setiap tahun digenjot dan ditingkatkan segala percepatan pembangunan Infrastruktur.

Lantas apa yang kemudian terjadi, apakah pembangunan berdampak signifikan terhadap kemajuan bangsa, tentu ada dampaknya, tentu ada perubahan, namun signifikansi rasanya tidak terlalu, yang ada adalah pembangunan dan pemerliharaan infrastruktur menjadi proyek abadi. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur apa yang lantas tidak menjadi proyek abadi, lantas Menjadi ladang-ladang korupsi. Hal ini terjadi karena orientasi perencana dan pengeksekusi program adalah agar anggaran terus mengalir, pekerjaan yang itu-itu saja tetap berjalan, sehingga triliunan rupiah setiap tahun habis jika tidak untuk membangun, maka merenovasi, bukan orientasinya menjaga atau merawat apa yang sudah dimiliki.

Salah satu kesalahan fatal dalam mendefinisikan pembangunan yakni memandang bahwa pembangunan adalah infrastruktur yang identik dengan jalan, jembatan, gedung, dan segala jenis ‘bangunan’ lainnya. Padahal menurut Prof. Tandzilu Ndraha pembangunan meliputi anatomik (bentuk/ infrastruktur), fisiologik (fase/tahapan), dan behavioral (perilaku). Namun yang justru diabaikan adalah pembangunan behavior atau perilaku masyarakatnya. Wajar jika pemerintah menggelontorkan dana ratusan hingga ribuan triliun setiap tahunnya untuk pembangunan infrastruktur, lalu kembali menjadi siklus tahunan yang hampir minim dampak karena tidak turut dibangun perilaku masyarakatnya. Maka tidak heran jika setiap tahun dibangun sekolah dan setiap tahun juga roboh, setiap tahun jalan diperbaiki namun setiap tahun juga rusak, karena orientasinya adalah proyek abadi, proyek abal-abal tanpa merubah perilaku aparat dan masyarakatnya.

Sesungguhnya jika kita ingin beranjak menjadi negara maju, adalah dengan melihat negara yang berperadaban lebih baik, bukan melihat infrastrukturnya tapi melihat bagaimana perilaku warga negaranya. Jika kita mempelajari transformasi singapura, jepang, malaysia, dan Korea Selatan yang titik nol kemerdekaan dan hantaman krisisnya berbarengan dengan Indonesia namun kemajuannya kini berbeda karena perbedaan pendekatan pembangunannya. Jika pendekatan awal Indonesia berorientasi infrastruktur, sedangkan pendekatan negara berperadaban maju ditekankan pada perubahan mentalitas, sikap, semangat berprestasi, dan rela berkorban. Bukankah Pendiri Singapura Lee Kuan Yew merombak singapura dengan tangan besi, dengan merubah mental warga dan aparat yang pada mulanya bobrok, malas, menjadi bangsa yang paling maju di Asia padahal minus sumber daya alam. Sesungguhnya pembangunan infrastruktur itu akan mengikuti jika perubahan perilakunya sudah berhasil. Karena bedanya negara maju dan berkembang adalah jika negara berkembang semangatnya membangun, sedangkan negara maju semangatnya merawat apa yang sudah dimiliki.

Maka jangan heran jika di negara kita, seberapa banyak-pun tong sampah dibangun dipinggir jalan maka tidak akan menjamin sampah akan berkurang atau tertata dalam tong. Yang ada dalam satu pekan tong sampah hilang dan sampah tetap berserakan, begitupula jangan harap pemerintah membangun drainase atau selokan akan melancarkan aliran air, malah justru akan dipenuhi sampah dan eceng gondok. Jika kita lihat berita berapakali pengelola jembatan suramadu mengganti baut, sling dan kelengkapan lain yang dicuri warga, berapa banyak baterai BTS yang hilang, seberapa banyak kendaraan operasional kantor pemerintah mangkrak, karena jawabannya satu bangsa ini tidak pernah serius merubah perilaku warga negaranya, semangatnya bukan merawat, tapi meruwat.***

Leave a Reply

Sketsa