Diberdayakan oleh Blogger.

Aiman dan Perekam Ajaib


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Pernah saya membayangkan apakah jika kelak nanti diamanahkan memiliki anak, saat pulang kerja akan disambut, dipeluk, disebut nama dan senantiasa dirindukan anak.  Atau anak bermanja-manja mengajak bermain. Terbersit kehawatiran, jika saya akan menjadi Ayah yang kering, ada tidak ada tidak berpengaruh bagi anak, tidak dirindukan, tidak menjadi bahu yang hangat bagi anak, semata-mata hanya menjadi mesin pencari nafkah buat keluarga.

Saat ini hal terbesar yang saya syukuri dan mungkin doa yang Allah kabulkan  adalah saat letih pulang kantor, saat membuka pintu garasi, Aiman (2,8 tahun) berlari menyambut dan menyebut nama Abi sambil manja menyorongkan kedua tangannya minta digendong. Selepas itu matanya mematut-matut bagasi motor berharap ada plastik tergantung sambil bertanya “Abi bawa oleh-oleh gak”. Alhamdulillah reaksinya datar saja jikapun saya tidak membawakan oleh-oleh, senyumnya selalu mengembang saat saya pulang. Terharu misalnya saat kemarin sore pulang kantor, saat saya membuka garasi, Aiman lari menyambut menyodorkan bungkusan kertas warna coklat yang didalamnya terdapat buku, Aiman bilang “Hadiah buat Abi”, langsung juga ia tunjukkan gambar-gambar yang ia buat hari itu, atau langsung menarik tangan “ Abi kita main balok (lego) yu”. Perangai Aiman yang justru membuat letih sepulang kantor dalam waktu singkat lenyap.

Betul kata Hadist Nabi yang saya lupa isi lengkapnya, hati-hati berbicara keras atau marah didepan anak walau ia masih bayi. Ada juga ungkapan perilaku orang tua yang terlihat ataupun tak terlihat akan dirasakan dan menjadi perilaku anak. Karena memang anak adalah perekam nomor satu, apapun yang iya lihat dengar dan rasakan akan ia tiru. Contoh hal yang Aiman Tiru dan replikasi adalah saat saya dan istri memutarkan video lagu anak judulnya Finger Family dari Videogyan Kids, isinya adalah nyanyian tentang jari sambil menyebutkan panggilan ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, dan bayi dalam aneka bahasa inggris, india, arab, dan cina. Dari  video yang ia lihat itu, Aiman merubah panggilan saya dan istri dari Abah dan Mama, menjadi Abi, Umi dan ia menyebut dirinya Akhi sebagaimana video. Sama sekali saya dan istri tidak pernah meminta Aiman untuk menyebut saya dan Ibunya Abi dan Umi, tapi prakarsa dari apa yang ia lihat dan dengralah yang menuntunnya memanggil saya abi dan umi. Untungnya tidak memanggil saya Father dan Mother hehe… Hal lain yang Aiman rekam kuat adalah hafalan huruf, mungkin karena kebiasaan saya membaca buku dan koran Aiman ikut serta membaca dan ia selalu bertanya ini huruf apa, itu huruf apa pada setiap judul atau merek. Hebatnya kini di usianya yang dibawah 3 tahun, Aiman sudah bisa mengeja semua huruf Kapiatal yang ada dalam Koran, bungkus makanan, merek baju, dan sebaganya. Semua atas prakarsanya bukan keinginan orang tua. Walaupun saat ini  ia eja  T-O-S-H-I-B-A kemudian dibaca TIVI. Memori kuat lainnya adalah hampir semua lagu nasional Aiman hafal, surat-surat pendek ia hafal dan juga asma ul husna. Kelalian kami saja yang tidak fokus konsisten mengajarkan hafalan yang kini membuat Aiman angot-angotan.

Seseungguhnya anak itu memiliki rasa dan pemahaman yang sangat baik, hal ini yang kami rasakan saat menjadwalkan Aiman sapih ASI, toilet training dan ditinggalkan ibunya kuliah. Awalnya kami betul-betul hawatir terkait respon Aiman saat disapih ASI, terbayang berantakan dan tercecernya najis di rumah saat toilet training dan histerisnya saat harus ditinggal ibunya kuliah, tapi itu rupanya perasaan kami saja, sesungguhnya Aiman menampakan sikap yang bisa diajak kompromi bekerjasama dan menjadi tim yang hebat. Saya sadari bahwa komunikasi kepada anak itu penting walaupun ia masih bayi, walau ia belum bisa berbicara. Ini kebiasaan baik istri saat akan menyapih Asi, misalnya istri bilang ke Aiman dalam bahasa ibu kepada anak jika akan disapih, Aiman harus siap, harus kuat, ada makanan lain yang bergizi dan enak, dsb. Begitupula jauh hari sebelum toilet training bahasa ibu ke anak disampaikan jika Aiman sudah besar kalau pake popok teruskan panas, gak boleh ngompol, harus BAB di tolilet, dan sebagainya, juga saat istri melanjutkan kuliah jauh hari disampaikan ke Aiman jika nanti Mama kuliah jangan nangis harus nurut sama abah dan nenek. Alhamdulillah proses sapih ASI Aiman berjalan lancar sesuai jadwal, kebutuhan BAB kini sepenuhnya di toilet dan  Aiman tidak pernah ngompol saat tidur, dan saat ditinggal istri berangkat jam 4 subuh untuk kuliah Aiman tidak menangis atau reaktif malah ia bilang “Mamah kekampus pake Jaket ya”

Dalam hati saya justru orangtualah yang justru banyak belajar dari anak sebelum mengajari anak. Jangan pernah berbohong kepada anak, jangan pernah menyembunyika perilaku buruk kepada anak, dan jangan pernah berakhlak buruk kepada anak, karena keburukan orang tua tanpa disadari akan menjadi perilaku anak ketika ia dewasa. Sungguh Aiman menjadi pemicu kami untuk terus berpeilaku baik, menjadi suritauladan, menjadi pelindung dan bahu yang kokoh. Saya tidak ingin kertas putih yang saya miliki tercabik oleh tinta yang kotor. Doakan Aiman jadi anak shalih, berakhlak baik, hormat pada orang tua, tentunya kelak bermanfaat bagi umat.***

Leave a Reply

Sketsa