Diberdayakan oleh Blogger.

Mengulangi


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Tulisan ini adalah cerita saya sebagai  seorang Ayah (sebutan Aiman sih Abi Abah atau abah Abi J). Kenapa ditulis, biar menjadi catatan tumbuh dan berkembangnya anak kami. Aiman kini menginjak usia 3 Tahun 2 bulan. Saat ini Aiman sedang saya ajak berpartisipasi, melalui aktivitas yang senantiasa melibatkannya, tentunya hal yang saya anggap ia akan mampu melakukannya, tujuannya melatih kepekaannya agar jika sudah terlatih akan terbawa hingga dewasa.

Bagi saya belajar partisipasi adalah sebuah prinsip agar kelak ia memiliki kepekaan sosial, tidak abai atau cuek terhadap apa yang terjadi pada lingkungan, melainkan turut rasa membenahi hal yang menurut nilai universal tidak pas. Kenapa prinsip, justru permasalahan pada zaman kini adalah sikap pribadi yang a sosial, tidak peka, cuek terhadap lingkungan. Dalam ruang yang sederhana mau rumah berantakan ia tidak peduli, mau sampah berserakan di halaman rumah dibiarkan, mau selokan mampat juga cuek, dsb.

Melibatkan merupakan perbuatan yang didasarkan suritauladan, saya tidak akan menyuruh Aiman jika saya tidak mengawali melakukan. Karena bagaimanapun sikap anak adalah copy paste lingkunganya dari apa yang dia lihat, dengar dan rasakan. Hal sederhana adalah saat Aiman turut membereskan mainan sebelum tidur, saat dilibatkan membuang sampah susu kotak dan tisu, saat mematikan lampu yang terjangkau tangannya, dan hal sederhana lainnya. Kemudian meningkat pada aktivitas yang agak berat, dimana  aktivitas tersebut berdampak pada orang atau mahluk hidup lain. Setiap selesai shalat subuh saya ajak bersama Aiman membuka pintu pagar dan garasi, diajak membuang dan membakar sampah, memberi makan ayam , ikan dan kucing, serta menyiram tanaman.

Apa yang terjadi setelah aneka pembiasaan tersebut dilakukan?  Memang pada akhirnya kebiasaan pelibatan sudah menjadi ‘nilai’ bagi Aiman. Hal yang menarik adalah sikap protesnya saat saya, Istri, nenek dan keluarga yang lain jika ada aktivitas yang tidak melibatkannya. Bahkan aktivitas tersebut harus diulangi, jika tidak dituruti, Aiman akan marah, terus merajuk dan menundukkan wajah. Biasanya ia protes “Aiman juga mau buka pager”, “Kenapa bukan Aiman yang matiin lampu kamar mandi, tangan aiman kan nyampe”, “Ulangi ngasih makan meongnya, Aiman juga mau”, dan aneka protes lainnya. Tentunya mau tidak mau saya dan semuanya harus mengulangi aktivitas yang ia ingin terlibat didalamnya. Terkadang memang kami lupa mengajak Aiman, kadang juga karena terburu-buru.

Tentunya memang protes terkadang membuat “kesabaran terkuras”, apalagi saat kondisi letih dan terburu-buru, tidak jarang jika sedang ‘lupa’  kami juga marah. Namun saat Aiman tertidur saya dan istri mengevaluasi agar sama-sama tidak terpancing amarah jika Aiman meminta mengulang aktivitas yang tidak mengikutkannya, karena orang bilang fasenya “Golden Age” dan saya yakin fase mengulang ini adalah tahapan terpenting dari belajar partsipasi. Jika saya dan istri marah, maka hanya akan melukai hatinya dan enggan terlibat dalam melakukan aneka aktivitas dimasa mendatang. Jadi seletih apapun jika kami lupa dan Aiman minta mengulang maka kami akan mengulangi sambil memintanya agar tidak semua aktivitas yang telah dilakukan perlu diulangi.

Apa hasilnya kini? Ahamdulillah kepekaannya sudah mulai tumbuh, hal sederhana misalnya saat ia bangun dan terihat bantal berserakan di bawah kasur, tanpa diminta ia akan mengangkatnya dan menyimpan ke kasur, selepas minum susu kotak ia akan langsung membuangnya ke tempat sampah, saat melihat pagar terbuka ia yang menutupnya, saat lampu kamar mandi ada yang lupa memadamkan, ia bisa diminta tolong untuk memadamkannya. Bahkan kini protesnya sudah terarah “Abi ini siapa yang lupa nutup pager, lupa matiin lampu, lupa buang sampah, dsb” dan segala pertanyaan maupun pernyataan yang ia anggap tidak sesuai dengan nilai yang ia anut.


Walaupun memang kebiasaan mengulang masih ia lakukan sebagaimana saban subuh ia minta minta mengulang pergi ke mushola dan mengulang shalat karena sandal yang ia kenakan sebelah besar sebelah kecil, Meminta Ibunya mengulang mematikan air matang karena hanya abinya yang harus mematikan air yang matang setelah dimasak, dan aneka hal lainnya. Namun saya yakin fase ini akan ia lewati dengan baik, dan yakin Aiman akan lulus melewate tahapan ini. InsyaAllah Aiman akan menjadi pribadi peka, dan peduli dengan sekitarnya, tanpa harus mengulang dan mengulangJ.****

Leave a Reply

Sketsa