Diberdayakan oleh Blogger.

TITIPAN


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Dalam titik nol, batin dan pikiran kita akan tersadar bahwa apa yang melekat dalam diri kita adalah ‘titipan’. Ya tidak kurang dan tidak lebih sekedar titipan. Namanya titipan, ada kalanya diambil dan tentunya kita yang dititipkan harus menjaga dan merawat dengan baik, sesuai dengan harapan penitip, agar penitip merasa senang dan menilai kita dapat dipercaya (amanah).

Apa yang sesungguhnya saat ini melekat pada diri kita? Wajah dan fisik yang rupawan, suara yang indah, harta yang berlimpah, kendaraan mewah, kepandaian, dan segala hal lain yang terkadang dengannya membuat kita menjadi pongah, menjadi serasa selangkah melebihi manusia (tuhan kecil) , merasa paling dan penting, terlupa jikalau apa yang melekat sebatas ‘titipan’.

Dalam dunia yang telanjang sering kita mendapatkan tontonan para aktor tampan dan aktris rupawan yang memperlihatkan gaya hidup mewahnya, musisi yang dengan busung dada menunjukkan kerajaan bisnis musiknya, pejabat yang arogan merasa paling benar dengan segala kebijakannya, olahragawan yang kerap menunjukkan kekayaannya, ilmuan yang menarif tinggi kepakarannya, pengacara yang hanya bekerja keras jika kliennya orang kaya, dan segala pertunjukkan lainnya jika kita sedang lupa bahwa semua yang melekat adalah titipan. Terkadang ada ego yang kuat, jika pencapaian kita saat ini adalah hasil segala upaya dan kerja keras. Namun tetap kesuksesan yang telah ‘tersuratkan’ adalah titipan.

Dalam banyak kesempatan lain kita juga kerap melihat ada artis yang menafkahi secara rutin anak yatim, ada pengusaha yang membangun ratusan rumah tidak layak huni, ilmuan yang saban waktu mengajar di kolong jembatan, Olahragawan yang menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk yayasan amal, eksekutif muda yang iuran membangun jembatan putus dipelosok, dan aneka kedermawanan lain sebagai wujud syukur atas ‘titipan’ yang Tuhan anugerahkan.

Butuh proses bagi kita dalam menyadari sebuah ‘titipan’. Dalam beberapa kesempatan saya merasa, hanya saya yang menguasai bidang keilmuan tertentu, dan sempat menerapkan tarif untuk sebuah jasa konsultasi. Namun ketika titik nol hadir, sepenuhnya sadar bahwa ilmu adalah titipan yang kapanpun bisa diambil Pemiliknya, lebih cepat diambilnya jika saya sombong mengenakannya. Saya tersadar jika kondisi saya kini adalah akibat bantuan, pertolongan dan uluran tangan berbagai pihak yang tak bisa disebutkan saking banyaknya, dan tidak mungkin bisa berdiri diatas kaki sendiri. Lalu apakah pantas jika lantas menarifkan diri atas sebuah ‘titipan’ Tuhan?. Toh bagaimanapun ketulusan kita menolong siapapun akan terbalas tunai dari Tuhan dan manusia diminta atau tidak. 

Mengapa hari ini kita masih sombong atas sebuah titipan?

Sumber gambar: http://michelleamandamp.tumblr.com/post/116535791112/copas-dari-grup-sebelah-semoga-bermanfaat

Leave a Reply

Sketsa