Diberdayakan oleh Blogger.

Archive for 01/12/16 - 01/01/17

Informasi Sesaat Pemahaman Sesat


posted by rahmatullah on

No comments



Barusan makan siang di kantin, nguping obrolan dalam kerumunan yang sedang menunjukkan uang Rp 100 ribu yang ada gambar ‘palu arit’ dan diantara mereka bilang sekarang ada uang baru kayak uang cina. Kerumunan itu menyimpulkan bahwa negara ini mata uangnya mulai mengikuti Negara komunis cina. Masih tentang uang, dalam laman facebook juga pada protes dengan uang-uang baru khususnya uang Rp.5000 yang kini tidak ada gambar ‘ulamanya’.

Lain sisi tanpa tahu latar belakang dan proses panjang riuh ramai membahas kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Negara Iran yang katanya “kunjungan Presiden menyakiti hati umat islam”, dilengkapi oleh viral Indonesia abstain dalam voting tentang syiria, tujuannya memperkuan argumen bahwa Negara ini tidak punya hati untuk peristiwa kemanusiaan di Aleppo.

Begitupula terkait pengamanan upaya teror yang dilakukan Polisi, sebagai langkah preventif dengan penangkapan calon pengantin “Perempuan” dinilai sebagai upaya pengalihan isu penistaan agama, ditmabah bumbu foto, mungkin masa lalu calon pengantin perempuan yang katanya alisnya dikerok sebagai penguat teori pengalihan isu. Entahlah kalau “Doar” Bom meledak polisi kita balik caci maki.

Silahkan ditambahkan lagi aneka gorengan informasi gurih lainnya yang instan dibuat, dimakan dan dicerna mentah-mentah lalu kita bagikan pada yang lain. Hal yang amat memprihatinkan adalah begitu reaktifnya kita men-share hal yang belum tentu kebenarannya. Hal yang amat menyedihkan adalah mereka yang men-share adalah berpendidikan strata tinggi, intelektual, pengajar/ dosen, tokoh panutan bahkan ustad. Kita lupa jika diera digital ini berlaku jika membicarakan orang itu ghibah dan informasi yang belum pasti keshihan kebenarannya kita sampaikan adalah fitnah.  Pertanyaannya silahkan cek dalam laman profil facebook kita, apakah kita pernah mengkoreksi postingan atau meminta maaf jika telah keliru men-share berita hoax?. Bukankah jika kita berpendidikan dalam membaca informasi atau berita cek sumber portal beritanya apakah betul-betul portal legal, berizin, dan betul-betul wartawan ber-id card yang memuat berita tersebut bukan hantu anonim. Apakah berita itu memuat klarifikasi/konfirmasi kepada pihak yang disangkakan? Sebagai dasar kaidah jurnalistik cover both side sebagai langkah agar tidak terjadi fitnah dan pencemaran nama baik. Tapi kenapa kita lupakan dasar-dasar itu? Padahal zaman kuliah dulu, kita pernah ikut sekolah jurnalistik.

Ayolah kawan kita pelajari lagi ilmu rendah hati, jika memang itu bukan keahlian, kapasitas, spesialis keilmuan kita bukankah lebih baik kita diam. Bukankah jika kita ngomong hal yang bukan pakarnya kita menyinggung profesi orang lain yang sekian tahun sekolah tinggi akan satu disiplin keilmuan sama halnya dengan merendahkan mereka, dimana merekapun sangat hati-hati dalam berkomentar dan membuat statement biar tidak liar dan mengakibatkan hiruk pikuk.

Rekan, bangsa ini sedang dibelah sesungguhnya bukan oleh China, Aseng, Syiah, Liberalis, dan lain sebagainya tetapi oleh jempol-jempol kita yang berlumuran dosa namun sok malaikat. Percayakan bahwa Gubernur BI dan mereka yang bekerja di BI adalah anak-anak terbaik bangsa, orang-orang pintar, berpendidikan tinggi, beragama, soleh-solehah yang tdak sedikitpun tersirat dihati mereka menyelipkan lambang palu arit atau merubah uang kita mirip yuan sebagaimana tuduhan seenak udel kita. Diperparah lagi dengan sensitifitas dibuat-buat uang baru gak ada ulamanya. Mbo ya kita berpikir pahlawan kita puluhan bahkan ratusan banyaknya. Pernahkah kita sebelum menshare berita terkait mengkonfirmasi pada sahabat kita di BI?.

Sama halnya andai kita sensitif betapa perihnya hati Menlu dan Diplomat kita terkait ocehan kita dimedia sosial. Sok mengetahui persoalan di Syiria dan nyinyir dengan kebijakan Luar Negeri, padahal betapa keras perjungan Korps diplomatik Indonesia di Suriah menjaga ratusan WNI yang terjebak dalam konflik, khususnya konflik kepentingan. Jika keliru sedikit saja dalam membuat kebijakan luar negeri maka yang jadi Korban di Syiria bukan hanya warga Syria tapi WNI yang ada disana. Seenak hati kita bilang Assad penjahat perang, jika Presiden bilang demikian maka bisa bumi hangus Kedutaan RI dan WNI disana. Kemudian menyeret-nyeret kepergian Jokowi ke Iran sebagai dukungan terhadap Iran yang mendukung Presiden Assad, lalu mengkait-kaitkan dengan syiah. Cobalah kita professional biarkan ini bagian rekan kita yang studi di Hubungan Internasional kekhusussan kajian timur tengah untuk berbicara dan bukan kita yang tidak tahu apa-apa menebar info yang mungkin jauh panggang dari api.

Dan entah mengapa upaya polisi selalu salah dimata kita. Ingat Jendar Tito sama dengan kita Muslim yang mungkin kesolehan dan ketaatan kepada Tuhan-Nya melebihi kita. Tupoksinya adalah menjaga NKRI adalah harga mati, berdiri diatas agama, golongan dan kepentingan yang ada dinegeri ini. Jangan kita berharap Jendral Tito berdiri diatas kepentingan kita. Polisi dalam menetapkan dan melumpuhkan teroris tidak sependek pikiran dan ucapan kita. Kalau kita merasa pintar silahkan perkarakan apa yang kita rasa Polisi tidak benar. Ayolah bro kalau profesi atau pekerjaan kita direndahkan atau dilecehkan bukankah sakit hati ini, sakit keluarga yang dinafkahinya. Beruntung mereka yang kita rendahkan punya daya sabar yang super, gak seperti kita yang gampang meletup.

Mari kita berinternet sehat, membagikan kesejukan,. Msa kanak-kanak kita sudah lalu, masihkah ingat dulu waktu kita kecil berandai-andai jika punya ini bisa itu, jika melakukan ini bisa begitu. Sama halnya toh apapun postingan kita dalam media sosial sesungguhnya tak seideal bayangan kita, yang sudah pasti adalah menebar kebencian dan perpecahan. Kalau kita meresapi statement Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang kita cintai, bahwa kita sedang terjebak dalam perang cyber tujuan utamanya adalah membelah bangsa ini. Bukan kita menunjuk siapa aktornya melainkan kita sendiri yang gemar membagi berita hoax sebagai pelaku perpecahan itu. Resapi dan rasakan sudah berapa postingan yang mengakibatkan kita renggang hubungan dengan rekan, sahabat, saudara, bahkan keluaraga karena perbedaan pendapat. Gara-garanya apa pepesan kosong berita hoax dalam jemari kita.

Demi Allah saya menulis ini hanya karena cinta mati NKRI, dan jujur amat ‘benci’ para penyebar berita palsu.***

foto: http://hibanget.com/dari-hoax-menjadi-hatred/

Pikiran Pendek dan Panjang


posted by rahmatullah on

No comments



Dalam satu kesempatan bermenung saya berkesimpulan bahwa pikiran anak muda itu pendek dan pikiran orang tua itu panjang. Yang membedakan pendek dan panjang itu adalah pengalaman dan pahit getirnya hidup. 

Terkadang atas dasar modernitas, kekinian, logika, dan latar penddikan yang tinggi kita sering beradu bantahan antara keputusan atau pendapat kita dengan keputusan dan pendapat orang tua. Biasanya orangtua mengalah dan dalam mengalahnya menguatkan melalui doa yang senantiasa diselipkan setiap sholat. Beda hal dengan kita jika ribut dengan orang tua, hal berikutnya kita lakukan adalah marah, membenci, ‘pundung’, tidak pulang kerumah, boro-boro menyelipkan doa bagi mereka. Yang ada selalu membuat orang tua cemas.

Dalam perjalanan hidup, atas pengalaman pikiran pendek yang senantiasa mentok sana sini.  Pada akhirnya saya putuskan mengikuti pandangan dan keputusan orang tua, karena pengalaman hidup merekalah yang menjadikan keputusan terbaik bagi anak-anaknya.

Hari ini saya mensyukuri “mendengar kata orang tua”, Pada mulanya setahun dua tahun dijalani hati kecil merasa kecewa karena keputusan yang saya lakoni adalah pilihan ibu. Namun rupanya jawaban atas kebenaran Ibu itu pada tahun-tahun berikutnya hingga kini begitu manis.

Hari ini betapa indahnya hidup, bangun subuh bisa mengajak Aiman Shalat ke masjid atau berjamaah dirumah, lanjut menemaninya bermain sambil ngopi disertai penganan hidangan istri. Beres-beres rumah ibu yang bersama kami tempati, lanjut memberi makan ayam-ayam kampung, lantas berbagi tugas istri menyuapi dan memandikan Aisyah, saya menyuapi dan memandikan Aiman, barulah jam 7.30 lalu saya berangkat menuju kantor. 

Begitupula maksimal jam 16.15 sudah berada dirumah, sangat leluasa waktu bercengkarama, bermain sambil belajar bersama Aisyah dan Aiman, mengajari membaca Iqra dan aneka buku cerita, diakhiri menidurkan Aiman dan istri menidurkan Aisyah. Alhamdulillah penuh syukur tinggal di Kota kelahiran Pandeglang Provinsi Banten, berangkat dan pulang kantor hanya butuh 10 menit, jauh dari hiruk pikuk kemacetan dan aneka godaan modernitas ala kota besar. Yang paling berharga adalah waktu saya sepenuhnya milik Aiman dan Aisyah, saya berkesempatan membersamai tumbuh kembang mereka, mendidik dan berupaya menjadi panutan. Menit demi menit terpantau perkembangan fisik, pola pikir, asupan gizi, hingga aneka suplemen ruhani mereka. Dan yang istimewa menjadi pelipur buat Ibu (nenek), yang atas kreatifitasnya menjadikan rumah ibu seperti kapal pecah. Hal yang paling nikmat adalah setiap hari saya bisa mencium tangan Ibu dan memintanya doa saat berangkat dan pulang kerja, kesempatan besar menjaga Ibu yang Alhamdulillah diusianya 70 tahun Allah anugerahkan sehat lahir maupun batin.
___________________________________________________
Semua bermula dari keputusan Ibu, saat saya menyelesaikan beasiswa S2 rehat dari pekerjaan di perusahaan multinasional di Pulau Kalimantan, Ibu meminta saya ikut test pegawai negara di daerah. Karena perintah ibu, maka saya turuti mengikuti tes walaupun waktu itu tidak ikhlas dan tanpa persiapan. Kemudian saya lupakan test itu dan rupanya saya lulus. Berat hati karena saya sudah merasa nyaman dengan suasana dan iklim kerja di perusahaan ditambah segala yang cerah baik gaji, fasilitas, masa depan, jabatan, akhirnya saya simpan asa itu demi mengikuti apa maunya Ibu.

Jujur ‘menderitalah’ awal-awal menjadi pegawai negara di daerah dengan segala kultur yang sudah diketahui bersama, hingga saking tidak kuat bertahan memilih hijrah ke kantor yang lokasinya dekat rumah Ibu dan Alhamdulillah hijrah membawa kebaikan. ‘Iri’ memang melihat pencapaian rekan-rekan yang sudah jadi diplomat, menjadi public speaker, konsultan atau pejabat di lembaga pusat/ kementrian, apalagi dengan sahabat-sahabat yang levelnya kian menanjak di perusahaan.

Alhamdulillah pikiran itu terusir sudah, karena hikmah terbesar dan tak terbayar oleh pencapaian apapun dari mengikuti keputusan ibu adalah penuh waktu saya untuk membersamai anak istri dan berkhidmat pada Ibu, selain Banyak waktu luang untuk meningkatkan kualitas diri, membaca, menulis dan melakukan segala hal.

Bagaimanapun itulah kenikmatan terbesar bagi saya saat ini, Insyallah saya mengupayakan hadir bersama mereka yang paling dekat dalam kehidupan saya, karena apapun hidup saya kepada merekalah kembalinya entah disaat senang, duka maupun sakit. Ridha Ibu adalah segalanya, dan khidmat kepada beliau tidak akan ada perulangannya. Dan saya yakin doa orang tua khususnya Ibu senantiasa menjawab segala keraguan kita terutama untuk berkahnya hidup anak-anaknya. 

Satu hal, kita tidak bisa menjamin apapun perihal kebahagiaan, hanya Allah yang menjamin, diantaranya melalui doa dan ridho dari orang tua.***

Surat Dari Aiman


posted by rahmatullah on

No comments



Kemarin pagi sebelum berangkat kantor, dengan nada tinggi saya menegur Aiman “Jangan mendorong Aisyah, kan masih kecil kasihan”. Memang akhir-akhir ini seringkali Aisyah yang baru lancar jalan ‘mengganggu’ atau mengisengi Aiman yang sedang asik bermain. Tetiba apa yang dipegang Aiman direbut Aisyah, legonya dirubuhkan, mobilannya dibanting, hp/ ipad yang sedang dimainkan direbut dan sebagainya yang memancing amarah Aiman. 

Memang kami sedang mentransfer cara agar Aiman merespon pola laku Aisyah dengan cara yang baik, tidak dengan mendorong, membentak atau menghalangi Aisyah, namun butuh proses dan pembiasaan. Aiman sesungguhnya teramat sayang sama adiknya, ibarat macan hanya kalau diganggu sayangnya Aiman sama adiknya jadi lenyap.

Oia balik lagi, rupanya nada tinggi saya menegur Aiman berbekas, sambil salim Aiman agak menangis “Mafin Aiman ya Abi, Aiman gak akan dorong Aisyah lagi”, mungkin juga karena saya sambil mengancam gak akan meminjami Ipad lagi. 

Sesampai dikantor atas hati yang tidak enak karena ‘memarahi’ Aiman, saya telpon istri dan menanyakan Aiman. Istri bilang “kayaknya Aiman nyesel ngedorong Aisyah, itu lagi nulis surat buat Abi, sambil juga nulis nama-nama anggota keluarga besar yang ia sayangi”.  Rupanya setengah hari kemarin Aiman punya proyek menulis, dan tulisannya ia tempel sedemikian rupa di dinding, istri membagikan foto tulisan yang ditempel didinding via WA. Hal yang membuat saya meleleh adalah rupanya ia menulis

“ Aiman Sayang Banget Sama Abi”,
“Abi Pulangnya Jangan Lama-lama Supaya Aiman Bisa Main Sama Abi” dan
“Abi kadang Baik Sama Aiman Kadang Marah Sama Aiman”.


Rupanya begitu mendalam ‘rasa sedih’ Aiman setelah saya marahi. Begitu lembut hati anak ini. Dan sebegitu merasa bersalahnya saya menegur Aiman dengan nada tinggi. 

Aiman memang istimewa begitu juga perilakunya sedang dicopy paste adiknya Aisyah. Dalam umurnya yang 4 tahun Sholat wajibnya sudah tak putus, belajar baca Al-Qurannya sudah menginjak Iqro 4, membaca sudah lancar, semangat ke masjidnya mengalahkan bapaknya, menulis juga lancar walau kendalanya huruf s kebalik jadi z. Semua ‘kabisa’ atas inisatif dia, tidak ada yang memaksa belajar membaca, menulis, yang pasti ia riang bermain melakoni masa kanak-kanaknya.

Maafkan Abi (sebutan Aiman) dan Abah (sebutan Aisyah), masih terus belajar jadi orang tua terbaik… jadilah anak soleh/solehah cageur, bageur, pinter. ***

Sketsa