Diberdayakan oleh Blogger.

Pikiran Pendek dan Panjang


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Dalam satu kesempatan bermenung saya berkesimpulan bahwa pikiran anak muda itu pendek dan pikiran orang tua itu panjang. Yang membedakan pendek dan panjang itu adalah pengalaman dan pahit getirnya hidup. 

Terkadang atas dasar modernitas, kekinian, logika, dan latar penddikan yang tinggi kita sering beradu bantahan antara keputusan atau pendapat kita dengan keputusan dan pendapat orang tua. Biasanya orangtua mengalah dan dalam mengalahnya menguatkan melalui doa yang senantiasa diselipkan setiap sholat. Beda hal dengan kita jika ribut dengan orang tua, hal berikutnya kita lakukan adalah marah, membenci, ‘pundung’, tidak pulang kerumah, boro-boro menyelipkan doa bagi mereka. Yang ada selalu membuat orang tua cemas.

Dalam perjalanan hidup, atas pengalaman pikiran pendek yang senantiasa mentok sana sini.  Pada akhirnya saya putuskan mengikuti pandangan dan keputusan orang tua, karena pengalaman hidup merekalah yang menjadikan keputusan terbaik bagi anak-anaknya.

Hari ini saya mensyukuri “mendengar kata orang tua”, Pada mulanya setahun dua tahun dijalani hati kecil merasa kecewa karena keputusan yang saya lakoni adalah pilihan ibu. Namun rupanya jawaban atas kebenaran Ibu itu pada tahun-tahun berikutnya hingga kini begitu manis.

Hari ini betapa indahnya hidup, bangun subuh bisa mengajak Aiman Shalat ke masjid atau berjamaah dirumah, lanjut menemaninya bermain sambil ngopi disertai penganan hidangan istri. Beres-beres rumah ibu yang bersama kami tempati, lanjut memberi makan ayam-ayam kampung, lantas berbagi tugas istri menyuapi dan memandikan Aisyah, saya menyuapi dan memandikan Aiman, barulah jam 7.30 lalu saya berangkat menuju kantor. 

Begitupula maksimal jam 16.15 sudah berada dirumah, sangat leluasa waktu bercengkarama, bermain sambil belajar bersama Aisyah dan Aiman, mengajari membaca Iqra dan aneka buku cerita, diakhiri menidurkan Aiman dan istri menidurkan Aisyah. Alhamdulillah penuh syukur tinggal di Kota kelahiran Pandeglang Provinsi Banten, berangkat dan pulang kantor hanya butuh 10 menit, jauh dari hiruk pikuk kemacetan dan aneka godaan modernitas ala kota besar. Yang paling berharga adalah waktu saya sepenuhnya milik Aiman dan Aisyah, saya berkesempatan membersamai tumbuh kembang mereka, mendidik dan berupaya menjadi panutan. Menit demi menit terpantau perkembangan fisik, pola pikir, asupan gizi, hingga aneka suplemen ruhani mereka. Dan yang istimewa menjadi pelipur buat Ibu (nenek), yang atas kreatifitasnya menjadikan rumah ibu seperti kapal pecah. Hal yang paling nikmat adalah setiap hari saya bisa mencium tangan Ibu dan memintanya doa saat berangkat dan pulang kerja, kesempatan besar menjaga Ibu yang Alhamdulillah diusianya 70 tahun Allah anugerahkan sehat lahir maupun batin.
___________________________________________________
Semua bermula dari keputusan Ibu, saat saya menyelesaikan beasiswa S2 rehat dari pekerjaan di perusahaan multinasional di Pulau Kalimantan, Ibu meminta saya ikut test pegawai negara di daerah. Karena perintah ibu, maka saya turuti mengikuti tes walaupun waktu itu tidak ikhlas dan tanpa persiapan. Kemudian saya lupakan test itu dan rupanya saya lulus. Berat hati karena saya sudah merasa nyaman dengan suasana dan iklim kerja di perusahaan ditambah segala yang cerah baik gaji, fasilitas, masa depan, jabatan, akhirnya saya simpan asa itu demi mengikuti apa maunya Ibu.

Jujur ‘menderitalah’ awal-awal menjadi pegawai negara di daerah dengan segala kultur yang sudah diketahui bersama, hingga saking tidak kuat bertahan memilih hijrah ke kantor yang lokasinya dekat rumah Ibu dan Alhamdulillah hijrah membawa kebaikan. ‘Iri’ memang melihat pencapaian rekan-rekan yang sudah jadi diplomat, menjadi public speaker, konsultan atau pejabat di lembaga pusat/ kementrian, apalagi dengan sahabat-sahabat yang levelnya kian menanjak di perusahaan.

Alhamdulillah pikiran itu terusir sudah, karena hikmah terbesar dan tak terbayar oleh pencapaian apapun dari mengikuti keputusan ibu adalah penuh waktu saya untuk membersamai anak istri dan berkhidmat pada Ibu, selain Banyak waktu luang untuk meningkatkan kualitas diri, membaca, menulis dan melakukan segala hal.

Bagaimanapun itulah kenikmatan terbesar bagi saya saat ini, Insyallah saya mengupayakan hadir bersama mereka yang paling dekat dalam kehidupan saya, karena apapun hidup saya kepada merekalah kembalinya entah disaat senang, duka maupun sakit. Ridha Ibu adalah segalanya, dan khidmat kepada beliau tidak akan ada perulangannya. Dan saya yakin doa orang tua khususnya Ibu senantiasa menjawab segala keraguan kita terutama untuk berkahnya hidup anak-anaknya. 

Satu hal, kita tidak bisa menjamin apapun perihal kebahagiaan, hanya Allah yang menjamin, diantaranya melalui doa dan ridho dari orang tua.***

Leave a Reply

Sketsa