Diberdayakan oleh Blogger.

Generasi "Pembunuh"


posted by rahmat rahmatullah

1 comment



Ini bulan suci, namun kehilangan magis kesuciannya… batin saya gemuruh dan resah, entah kenapa anak muda sekarang sadar atau tidak telah menjelma menjadi generasi “pembunuh” dan “pembantai”. Kali ini agak keras saya menyebutnya, karena teramat sedih menyaksikan laku dan polah generasi kekinian, generasi lemmings (ikut-ikutan) yang latahnya juga diikuti mereka yang usia dewasa, berpendidikan yang berpredikat cerdik cendikia.

Dalam mendampingi kedua anak saya yang Balita, hal yang senantiasa saya dengung-dengungkan adalah bagaimana menjadikan mereka kelak generasi yang berbudi pekerti, akhlak mulia dan mampu menghargai orang tua khususnya, orang yang lebih tua dan sesama. Masalah kecerdasan dan kepintaran saya sebut nomor dua, karena bagaimanapun cerdas, pandai namun miskin etika, budi pekerti, akhlak mulia, tidak mampu menghargai hanya menjadi generasi saat ini. Generasi pengekor, penghasut, pembenci, kepandaiannya hanya untuk menghancurkan.

Entahlah sehebat-hebatnya dan sepandai-pandainya kita jika tidak bisa menghormati orang tua, orang yang lebih tua, generasi dibawah kita, menghargai perbedaan, kekurangan dan kelemahan orang lain hanya akan men-tuhankan dirinya, orang lain akan salah dan hanya dirinyalah yang merasa super benar.

Apa itu generasi “Pembantai” dan “Pembunuh”?,Mudah bagi saya mengidentifikasi sesorang terkait sikapnya dilihat dari cara ia bermedia sosial, bagiamana ia berbahasa dan berpola dalam menggunakan Facebook (Fb) dan tweeter, coba amati dan rasakan kepribadian sesorang dari cara bermedia sosial. Betapa brutalnya kita “membunuh” seorang anak bernama Afi Nihaya Faradisa, generasi cerdas, mutiara penerus bangsa, calon penulis handal. Hanya karena ia memposting tulisan-tulisannya dalam laman FB, yang dari beberapa tulisannya ada yang plagiasi. Dan mungkin selera tulisannya berbeda dengan selera pada umumnya. Jika kita lihat fenomena, kita sadar jika ada tulisannya kurang  pada tempatnya. Jika kita melihat nomena, bayangkan anak ini umurnya baru 19 Tahun, baru melepas seragam putih abu-abu, mampu membuat tulisan yang ciamik, bertutur, enak dibaca, berasal dari keluarga kurang mampu. Jika dia mutiara kenapa gak kita ‘dekap’, rangkul, bantu, sayangi dan asah hingga menjadi Mutiara yang semakin berkilau. Tapi malah kita “bunuh” padahal dia masih kanak-kanak.

Fair saya katakana, jika saya penulis baik buku, artikel, blogger dalam tulisan yang berserak saya akui sesekali pernah lakukan plagiasi entah itu mengutip tanpa menyebutkan sumber, mengambil paragraf tanpa direproduksi, dan sebagainya. Dan entah berapa artikel dalam blog yang saya tulis dicopy paste orang lain tanpa menuliskan sumber maupun izin. Bahkan dalam satu kesempatan saya pergoki adik kelas pascasarjana di UI yang mengcopy tulisan dalam blog saya secara utuh untuk tugas kuliahnya saya tegur hanya ‘cengar-cengir’ serasa tak berdosa. Dan satu kesempatan saya pernah menegur portal berita yang mengcopy tulisan saya tanpa menyebutkan nama saya atau sumber, sama sekali tidak merespon apalagi merasa bersalah.

Lantas kenapa seorang anak bernama Afi kita ‘Bantai’ karena satu postingannya plagiasi. Apa memang kita tidak pernah berplagiasi dalam Facebook? Kita merasa sok, berapa banyak status kita adalah copian status orang, status tokoh, lupa menyebutkan sumber, mengabil foto dalam google, demi sebuah decak kagum orang lain. 

Sudahlah jika Afi adalah anak kita, dan kita sebagai orang tuanya hanya karena sebuah postingan lalu dihukumi sedemikian rupa. Bukankah kita pernah merasakan jika kita melakukan 1000 kebaikan, lalu 1 kali kita berbuat kesalahan, lalu satu kesalahan tersebut menutup 1000 kebaikan yang kita buat, apalagi satu kesalahan itu digembar-gemborkan, bukankah sakit? Namum kenapa kita berbuat itu pada seorang anak. 

Kenapa kita persoalkan karena Afi dibesarkan media, banyak diundang dan terkenal. Persoalannya kenapa lantas kita iri, sayapun akan senang jika saya menulis, lalu tulisan saya dipublikasikan banyak orang, hingga diundang media, dan kepala Negara, maka dengan senang hati saya akan datangi. Persoalannya apa yang bisa kita jual dengan diri kita? Mungin hanya baru bisa menjual kebencian dan rasa iri.

Sudahlah kita sucikan kembali puasa kita, berkaca diri, karena kitapun bergelimang dosa…. Mari kita sempurnakan dan tak perlu berlebihan ‘mengurusi’ orang lain.

Terakhir, tips bermedia sosial: “ Jika suka dibaca, tak suka ya jangan dibaca, jangan teralalu usil….”***

Gambar : http://www.tribunnews.com/regional/2017/01/08/polisi-ringkus-kakak-pembunuh-sapriyadi

1 comment

Leave a Reply

Sketsa