Diberdayakan oleh Blogger.

Fase Membersamai Anak


posted by rahmat rahmatullah

No comments



Dalam beberapa kesempatan saya bermenung, kok rasanya 3 tahun kebelakang ini “Aktivitas” semakin menurun. Gairah untuk mendapatkan side job baik itu menulis, meneliti, mengajar, memberi pelatihan turun drastis. Bukan karena kurangnya tawaran atau kesempatan, namun entah kenapa saat ini malas…, enggan manggung, enggan beranjak dari rumah.

Satu sisi memang keterikatan waktu sebagai pegawai negara, ditambah sistem presensi yang mewajibkan duduk dari jam 07.30-16.00 mengakibatkan saya pensiun sebagai Dosen ditahun ini, setalah 10 Tahun mengajar. Beberapa undangan jadi narasumber tentang CSR juga pada akhirnya saya tolak karena memang berbarengan dengan jam kerja. Disamping pertobatan saya dulu-dulu melakukan “Korupsi Waktu”. Ada rekan yang kerap menawarkan saya untuk mengajar atau memberikan slot  training CSR di hari Sabtu dan Minggu, juga saya tolak. Alasannya sama karena malas keluar rumah.

Dalam lamunan  saya membandingkan betapa hebatnya rekan kuliah, adik tingkat, patner trainer yang saat ini profesinya kian matang, menjadi diplomat, jam terbang pelatihannya kian tinggi, klien jasa konsultasinya merambah perusahaan multinasional, tulisannya menembus aneka jurnal, bahkan mewarnai Koran nasional. Sedangkan saya semakin menjauhi Jakarta, hinggap di Kota Serang dan sekarang pulang kampung di Pandeglang, menjauh dari peredaran keramaian hehe... kebetulan memang lokasi kantor juga di Kabupaten sejuk ini.

Tumbuh juga pertanyaan apa memang masa  emas saya sudah lewat? Saat dulu kerja di konsultan Kota Bandung di usia 26 disitulah saya memahami apa itu kinerja, berharganya waktu kapan pun meeting siap, jam berapapun diminta progress pekerjaan siap, berangkat menemui dan paparan ke klien siap. Saat bekerja diperusahaan Asing mengelola CSR betapa bangganya menjadi kepercayaan perusahaan dalam melakukan kajian Social Assessment (SIA), hampir tiap pekan terbang lintas pulau Kalimantan memberikan rekomendasi terhadap lahan yang akan dibeli perusahaan dalam aspek sosial, jika rekomendasi yang saya susun dinyatakan tidak layak, maka batal perusahaan mengakuisisi. Betapa produktifnya Tahun 2009, 2010, 2011 menulis dan menerbitkan buku. Bahkan buku Panduan Praktis CSR kini tandas, banyak permintaan pembeli via sms, WA atau e-mail yang tidak bisa saya penuhi karena stok habis. Padahal jika lihat peluang saat ini kesempatan menerbitkan edisi revisi begitu besar.

Lantas saya curhatkan situasi “Kemenurunan” saya ini kepada Kakak. Saya bilang kok malas sekali kaki ini untuk melangkah keluar rumah, menjemput aneka peluang, tak seenergik dulu. Lalu kakak menunjuk anak pertama saya yang umurnya 5 Tahun, lihat Aiman dia sudah pandai membaca, Sholat wajibnya tak putus, membaca Al-Qurannya sudah mulai lancar, perangainya macam orang dewasa. Berbahagialah tanpa sadar jikalau waktumu itu sebenarnya sedang untuk dia, bukan untuk orang lain dulu. Coba bandingkan dengan anak seusianya. Hal itu yang membuatmu malas melangkah keluar rumah, karena kamu sedang membersamai masa emas anakmu.

Ah memang itu kunci jawaban betapa nyamannya saya dirumah dan menegasikan ekesistensi yang lain. Satu sisi memang ini menjadi ancaman terhadap profesi, karir bahkan jaringan. Sisi lain kenyamanan membersamai tumbuh kembang anak adalah hal yang tak akan pernah ada perulangannya, dan kelak menjadi memori sepanjang hidup anak. Entah dalam benak ini yang tersirat hanyalah anak, anak, anak. 

Dan saat menulis ini saya tersadar bahwa kemenurunan eksistensi kini justru untuk kualitas kehidupan dunia akhirat anak kelak. Memang kurang nikmat dan bersyukur apa saat ini, tinggal berkhidmat membersamai Ibunda, bangun Shalat subuh beranjak ke Mushola bersama Aiman, habis itu mengajarinya Iqra, menyuapi, memandikan lalu bermain bersama adiknya Aisyah, lalu beranjak menuju kantor jam 07.15.

Memang rutinitas ini saya jalani 3 (tiga) tahun terakhir, dan begitu nikmatnya membersamai tumbuh kembang mereka, bukan hanya menonton melainkan menyelami suasana hati mereka. Saya baru paham, jika waktu dengan mereka sangatlah pendek. Jika sudah menginjak usia SD, SMP dan level berikutnya mereka akan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sebagaimana rekan-rekan kantor yang kini mulai mengantarkan anaknya beranjak menuju pesantren, dan sejenisnya yang tentunya kian berjarak dengan sang anak.

Biarlah saat ini fase saya membersamai anak, menikmati kehangatan berkasih sayang, memeluknya, mengajarinya Iqra, membaca, mendongeng, mendengarnya berceloteh, bermain, berjalan bersama, menyuapi, dan memandikannya. Karena kelak setelah 7 tahun hatinya sudah terbagi untuk sekolah, untuk temannya, untuk lingkungan, untuk mimpinya dan untuk dirinya.***

Leave a Reply

Sketsa