Diberdayakan oleh Blogger.

"Membentuk" Anak


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Sebelum beranjak ke peraduan, semalam saya dan istri berbincang serius tentang bagaimana mendidik dan mempersiapkan kehidupan anak-anak kedepan. Kami bermufakat sangat teramat takzim kepada  keempat orang tua kami, sambil mengingat bagaimana Bapak dan Ibu begitu luar biasa menuntaskan amanah membesarkan 8 anak, begitupun mertua membesarkan 7 orang anak, semua dilakukan secara paripurna. Saya memaknai “paripurna” artinya dalam segala macam keterbatasan masa lalu kami sebagai anak-anak guru mereka mampu mencukupi segala hal; makanan, ilmu pengetahuan, ilmu agama, akhlak, hingga ilmu kehidupan. Dengan paripurna tanpa warisan harta sepetak tanah-pun, tak ada anak yang putus sekolah, bahkan masing-masing berjuang hingga mendapatkan gelar doktor di negeri orang, tak putus menjalankan kewajiban agama,  dan satu hal tak kenal kata putus asa. Dan yang paling utama adalah ikatan keluarga terbentuk begitu kokoh, saling menguatkan, memotivasi, dan berkompetisi dalam kebajikan. Alhamdulillah dalam titipan amanah rizki, sudah 3 tahun berjalan zakat yang dikumpulkan keluarga tersalurkan kepada lingkungan keluarga besar dan tetangga baik dalam bentuk bahan pokok, perlengkapan sekolah, hingga beasiswa. Begitupun setiap berkurban sudah menjadi tradisi patungan keluarga mempersiapkan hewan kurban terbaik untuk dibagikan sekitar rumah.

Nah, yang menjadi point apa yang kami lakukan adalah bukanlah dengan sendirinya, melainkan hasil kerja keras bagaimana Bapak dan ibu kami mendidik pada masa lalu. Kami sadar mereka bukan pembelajar parenting sepotong sepotong di media sosial, apalagi pembaca google sebagaimana kita mengkonsultasikan segala hal ihwal kepadanya. Bapak memang seorang kutu buku, yang khatam segala jenis kitab dan Ibu adalah bahu sesungguhnya kami yang limpahan kasih sayangnya tak pernah mengering, sehingga melahirkan anak-anak bermental baja.

Dan saya bersama istri sedang mengingat-ingat bagaimana sesungguhnya bapak-bapak dan ibu-ibu kami mendidik pada masanya, padahal kami baru Allah anugerahan 2 (dua) anak manis terkadang sering mentok bagaimana caranya agar mereka rajin sholat, peka, disiplin, resik, tanggungjawab. Apalagi terkait mengelola emosi yang sering kali jebol, padahal Bapak dan Ibu kami khatam dengan 8 anak.

Duh Gusti nu Agung, anugerahkan kami kapasitas sebagaimana orang tua kami. Almarhum Bapak pernah bilang “Mat, ngadidik anak jauh lebih beurat dibanding ngadidik anak batur, ngadidik murid. Loba kiai nu anakna malah teu jadi ustad, loba guru nu anakna malah bangor, ke sorangan ngarasakeun kumaha susahna”. Bapak sudah khatam dan saya baru memulai dengan jalan yang masih panjang, Bapak dengan ‘masanya’, dan saya dengan ‘masanya’. Zaman anak-anak kami begitu instan, banyak viral bagaiman adik kakak loncat dari apartemen setelah sepeninggal ibunya, anak yang depresi setelah ibunya sakit keras, anak-anak yang dengan mudah menuntut dan mengancam agar diberikan HP terkini tanpa pernah berpikir kemana lagi bapaknya berhutang, anak-anak yang sebegitu mudahnya membully temannya hanya karena merek sepatu yang berbeda. Dan rupanya banyak juga anak-anak yang sekolah di SD, SMP,SMA Islam terpadu maupun pesantren, hafal segala jenis doa dan ayat tapi tetep susah disuruh solat, masa bodoh dengan tumpukan cucian baju maupun piring, IQ, SQ tinggi tapi emosinya jongkok. 

Maafkan kami Bapak Ibu, karena semakin tersadar betapa hebat dan luar bisanya engkau membesarkan kami dengan paripurna tidak kurang suatu apapun. Ya Rabbi mampukan kami menjaga amanah anak sebagaimana orang-orang tua kami. Kami sadar harta terbesar bukan uang, emas, hamparan tanah melainkan akhlak anak yang terpuji.

Rekan… jikalau bapak ibu kita masih ada, sayangi mereka, sering kunjungi, sering telpon karena kelak beda rasanya jikalau mereka sudah tiada. Apalah kesibukan dunia kita ini tak ada artinya jikalau Allah Sudah panggil Bapak Ibu kita ke haribaan…

Leave a Reply

Sketsa