Diberdayakan oleh Blogger.

Kerja-mu Ibadah-mu


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Saban magrib menjelang isya sembari menemani ibu makan, biasanya saya berbincang apa saja, beraneka topik entah itu tentang keluarga, saudara, kehidupan bertetangga, harga-harga kebutuhan pokok, sinetron, peribadatan, dan lain sebagainya. Hingga satu ketika ibu sempat mengutarakan dalam obrolan “Sayang ya… anak-anak gak ada yang jadi ulama”, saya sambut “InsyAllah mah, mudah-mudahan di generasi cucu, cicit, dan seterusnya ada yang jadi ulama”. Saya hakkul yakin apa yang ibu utarakan adalah doa dari hati terdalam, yang semoga Allah kabulkan pada anak keturunan selanjutnya.

Wajar sebetulnya ibu punya harapan demikian, karena dari 8 (delapan) anak, 4 alumni pesantren modern, 2 alumni pesantren salaf (santri kalong). Tak ada satupun yang menjadi ustad kecil, ustad kampung apalagi menjadi ulama. Semua menekuni pekerjaan pada umumnya yakni  guru, dosen dan pegawai . Dan saya yakin ibu manapun, dimanapun, dan apapun latarnya pasti mengharapkan anaknya menjadi ulama sebagai puncak harapan, bukan profesi atau pekerjaan lain.

Obrolan terkait topik tersebut tidak berhenti pada satu malam, terkadang bersambung pagi sebelum saya bekerja, atau magrib berikutnya, memang sifat ibu jikalau satu topik belum mendapatkan tanggapan yang pas, akan dibahas pada seri selanjutnya. Yang saya tangkap dalam alam pikiran ibu, jikalau ulama, segala tindak tanduknya adalah ibadah, apalagi senantiasa menyampaikan pesan kebaikan khususnya melalui ceramah, kebaikan tersebut turut membawa pahala dan kemuliaan bagi orang tua.

Dalam satu kesempatan, saya mencoba meyakinkan ibu, bahwa setiap pekerjaan adalah ibadah apapun bentuknya (pastinya pekerjaan yang tidak melanggar aturan agama). Dalam alam pikiran saya bahwa ibadah itu terbagi kedalam bentuk menjalankan perintah yang wajib, sunah dan menjalankan peran. Yang saya sebut peran adalah profesi atau pekerjaan yang sebagian besar waktu kita dihabiskan oleh peran tersebut. Saya sampaikan ke ibu, jikalau anak ibu menjadi guru/ dosen, justru ibadah terbesarnya adalah menjalankan kewajibannya sebagai guru/ dosen bagaimana ia mengajar dengan total, tulus mengabdi dan tidak melanggar peraturan. Jikalau anak ibu menjadi pegawai, maka aktivitasnya adalah ibadah mulai pergi hingga pulangnya, melayani masyarakat, memberikan aneka kemudahan, memberikan jalan keluar. Tidak mengambil yang bukan haknya, tidak korupsi waktu, apalagi memperkaya yang bukan miliknya. Terlebih dalam Hadis Riwayat Thabrani disebutkan bahwa “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya. 

Saya yakinkan ibu, bahwa anak-anak kini sedang beribadah dengan pekerjaanya, karena menjalankan dengan totalitas. Terlebih  ditengah ibadah yang menjadi pekerjaannya juga menjalankan perintah wajib dan sunah. Apalagi ada peran-peran lain yang turut dijalankan, menjadi ibu yang merawat dan membesarkan anak-anaknya, dan ayah yang menafkahi serta mendidik dan melindungi anak-anaknya.

Topik itu kini sudah berganti dengan tema yang lain, saya mengartikan Ibu bisa menerima alam pikiran saya atau mungkin sama sekali tidak menerima hehe… Pada dasarnya yang ingin saya kemukakan berdasarkan dialog dengan ibu adalah bahwa pekerjaan yang sedang kita geluti adalah ibadah dan justru menjadi ibadah terbesar kita. Menjadi ibu rumah tangga yang merawat dan membesarkan anak dengan total berlandaskan nilai-nilai Illahiah adalah ibadah, menjalankan perkerjaan apapun apakah itu nelayan, petani, pedagang, pegawai yang ditengah-tengah aktivitasnya menjalankan kewajiban dan sunah adalah ibadah. Yang penting ditengah profesi utamanya tidak melakukan hal yang menyimpang, jika menjadi ibu rumah tangga tidak menjadikan fitrah membesarkan anak sebagai beban atau anggapan tidak terpandang dengan status IRT. Jika menjadi pedagang, tidak mengurangi timbangan atau berbohong terkait barang yang dijualnya. Jika menjadi petani, maka menanam dengan komposisi pupuk yang aman agar yang dikonsumsi menyehatkan, jika menjadi pegawai maka melayani dengan total, tidak mengambil yang bukan haknya, tidak mengurangi waktu apalagi mempersulit klien atau  warganya.

Ayo bro, kerja optimal, yakini aktivitas kita adalah ibadah terbesar kita, nikmati dan jalankan peran sebaik mungkin.***

- sumber gambar : tabungwakaf.com

Leave a Reply

Sketsa