Diberdayakan oleh Blogger.

Suudzan


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Berburuk sangka adalah 'penyakit' yang kerap saya dera, bahkan hingga pertengahan ramadhan-pun belum hilang, malah menjadi-jadi. Sedikit tulisan pendek ini mengenai suudzan dan suratan takdir, semoga ada pembelajaran untuk mengobati hati.

Selasa, 5 Juni 2018 kami berangkat ke salah satu kementerian untuk berkonsultasi terkait sebuah pekerjaan. Satu hari sebelumnya kami sudah mengikat janji dan ‘fix’ bertemu dengan beliau jam 10 pagi. Karena jarak yang lumayan jauh dari Pandeglang, rombongan kami berangkat jam 6. Alhamdulillah jam 9 sudah sampai di Lokasi, rupanya untuk melakukan konsultasi di Kementerian tersebut, harus melakukan registrasi, pendataan, hingga diberikan arahan lokasi dimana gedung tempat beliau.  Sesampai di gedung yang dituju harus kembali registrasi dan menunggu di ruang bawah. Saat itu ditanya akan bertemu siapa oleh petugas, kami sampaikan sudah ada janji dengan beliau, dan dinyatakan ruangannya masih kosong. Sebetulnya dalam perjalanan sudah kami kontak beliau via WA, SMS dan telpon untuk memastikan posisi kami, dan rupanya HPnya tidak aktif.

Dalam benak, pasti menjelang siang HPnya akan aktif apalagi sudah menjadwalkan sebelumnya. Hingga jam 10 rupanya HP beliau tetap tidak bisa dikontak, mondar mandir kami tanya ke petugas registrasi, dan dinyatakan beliau belum datang. Karena kami rencana mengunjungi dua tempat, akhirnya demi efektifitas rombongan dipecah, saya dan rekan tetap menunggu dan dua rekan beranjak ke instansi lain untuk mengkoordinasikan pekerjaan berbeda.

Rasa kesal, BeTe dan prasangka mulai hinggap karena sampai jam 11 HP beliau belum aktif, balik lagi ke petugas mengkonfirmasi bahwa beliau belum datang dan ruangan kosong. Akhirnya kami minta agar dikontakan dengan pegawai pada unit yang sama untuk berkonsultasi. Lalu jawaban petugas bahwa unit tersebut kosong karena semua pegawai dipanggil direktur untuk rapat.

Kekecewaan kami semakin menjadi, karena janji yang diikat kian tidak ada kepastian, dan prasangka memuncak pada beliau karena kami jauh dari daerah malah di PHP-in. Kalau tidak bisa ketemu ya konfirmasi, apa sulitnya. Pikiran kami kian berbelit setelah ditambah persoalan ada kesalahan pada Surat Perjalanan Dinas yang tidak bisa diproses dan harus segera diperbaiki. Akhirnya dengan segala daya upaya, rekan kantor bisa memperbaiki surat perjalanan dinas, di-emailkan dan diproses di Kementrian tersebut.

Menjelang zuhur HP beliau tetap tidak aktif, petugas registrasi-pun tidak bisa memberikan info apapun. Akhirnya kami putuskan pulang dengan sayap yang patah karena melakukan kunjungan sia-sia. Perjalanan pulang kami isi dengan obrolan sumpah serapah, dan prasangka tak ada akhir, kami anggap beliau wan prestasi dimata kami. Saya ingatkan rekan untuk tetap mengirimkan SMS ke beliau bahwa kami pamit pulang.

Jam 16.00 saya ditelpon rekan yang kerap menghubungi beliau dan mengabari bahwa, barusan istri beliau mengontak dalam kondisi panik dan menangis. Minta tolong agar diinfokan ke rekan-rekan kementrian bahwa pagi tadi beliau terkena stroke. Istri beliau mengira bahwa rekan saya yang sepanjang pagi hingga siang menelpon adalah teman beliau di kementrian. Dan rekan saya jelaskan bahwa kami tamu dari daerah yang punya janji untuk bertemu beliau yang rupanya pada saat puncak prasangka kami beliau sedang mendapatkan cobaan serangan stroke.

Saat itu juga, bulu kuduk saya berdiri dan tak putus beristighfar meminta ampun. Rupanya sepanjang saya berprasangka, mengucapkan sumpah serapah disaat yang sama beliau sedang dicoba serangan penyakit yang mengancam jiwa. Entahlah, mungkin puasa saya sepanjang umur hanyalah puasa fisik, sedangkan hati ini tak mampu dikelola dan penuh dengan ‘penyakit’ prasangka. Saya dan rekan hanya bisa berdoa semoga beliau dianugerahkan kesembuhan sediakala.

Dilain pihak pikiran ini menerawang jauh, apalah yang dikejar jungkir balik di dunia ini…materi, harta, tahta, semua pasti binasa apalagi jika Allah tidak ridha dengan cara dan upaya kita selama ini. Bisa jadi dalam proses untuk meraih dunia banyak pihak tersakiti dan terluka akibat polah dan tingkah kita.

Sudahlah, saatnya diri ini berubah, beranjak hijrah… kematian itu dekat dan teramat dekat, tersadar hati masih kotor dan bekal akhirat masih nol besar. Sedangkan Ramdahan sudah menjelang detik akhir… ***

Leave a Reply

Sketsa