Diberdayakan oleh Blogger.

Pencari Bakat


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Jangan serius, ini sekedar lamunan…

Jadi begini…. Apakah mungkin jika dalam satu kecamatan ditugaskan seseorang sebagai pencari bakat dalam segala aspek kecakapan, yang kemudian dijadikan sebagai basis data peta potensi SDM kecamatan. Data Kecakapan yang memungkinkan dihimpun misalanya dalam bidang oleh raga: Sepak bola/ futsal, atletik, beladiri, voli, bulutangkis, tenis meja, catur, panahan, angkat berat, dan sebagainya disesuaikan dengan kondisi geografi dan lokalitas. Bidang seni budaya: tari, nyanyi, Qori, melukis, seni rupa, memahat, menyulam, menganyam, dan sebagainya disesuaikan dengan keragaman dan lokalitas. Begitu juga bakat-bakat lain dapat dihimpun untuk dijadikan sebagai basis data SDM potensial yang tidak hanya untuk kemajuan kecamatan, kabupaten, bahkan lebih jauh untuk kemajuan serta keharuman bangsa ini.

Bakat siapa yang dicari? Bakat pada usia anak-anak yang masih dapat dibina, dibentuk, ditingkatkan dan disalurkan lagi potensinya ke tingkat kontestasi yang lebih tinggi. Siapa targetnya? tentunya anak-anak yang dibatasi kisaran usia SD hingga SMP. Dapat darimana datanya? secara formal bisa diakses dari lembaga pendidikan SD dan SMP dalam lingkup kecamatan, secara informal didapatkan melalui blusukan ke kampung-kampung melihat pertandingan sepakbola, voli, pertunjukan seni di sanggar-sanggar atau melalui observasi serta wawancara mendalam ke RT/RW hingga tokoh setempat. Namun memang yang jadi persoalan adalah data potensi yang terhimpun lalu mau diapakan???

Bayangkan jumlah penduduk Indonesia kini > 261,1 juta jiwa. Dengan jumlah yang berlimpah tentunya tidak ada alasan jika olahraga kita minim prestasi dan seni budaya tidak berkembang bahkan terancam punah. Hal ini terjadi dikarenakan dari jumlah penduduk yang banyak tidak dibarengi dengan basis data potensi manusia sejak dini, walaupun sudah ada data terbatas tidak dibarengi dengan pembinaan strategis pada level yang lebih tinggi. 

Sebetulnya jika kita amati, sebagaian besar prestasi anak bangsa yang muncul ke level internasional adalah hasil dukung keluarga yang mapan, maupun hasil pembinaan, sponsor dan kepedulian pihak swasta. Hasil pembinaan pemerintah yang sifatnya berjenjang dapat dihitung jari. Kenapa demikian dikarenakan sedari awal sekolah-sekolah di negeri ini hanya mendidik manusia-manusia generalis, potensi yang ada dibunuh pelan-pelan. Misalnya ada anak yang memang tidak jago mata pelajaran matematika atau IPA lalu dibully secara lembaga padahal dia punya potensi besar dalam olah raga atletik. Sekolah secara lembaga ‘memaksa’ dia agar bisa Matematika/ IPA dan tidak difokuskan pada potensi sesungguhnya yang dimiliki. Padahal potensi olahraga tersebut jika diarahkan, dibina, dan dipromosikan kelak bisa menjadi prestasi bangsa dan mengangkat derajat hidupnya. 

Mungkin kita bisa memulainya dengan membuat permodelan pada level Kabupaten/ Kota. Namun yang dibutuhkan adalah Walikota/ Bupati yang visioner. Jika ada kehendak, mudah saja tinggal mengadakan kontestasi/ lomba dengan frekuansi yang lebih banyak sesuai dengan bidang potensi. Sudah pasti jika kontestasi/ lomba sering dilakukan baik oleh pemerintah, swasta, maupun individu yang memiliki perhatian maka otomatis bakat-bakat akan bermunculan, dan komunitas mulai dari level kampung, sekolah, kelompok-kelompok profesi/minat akan melakukan pembibitan secara serius dan berkesinambungan. Secara bersamaan para pencari bakat mulai menghimpun basis data potensi anak bangsa pada level kabupaten.

Di era globalisasi dan keterbukaan informasi, sebetulnya bakat yang terhimpun dan prestasi yang diraih pada level kabupaten, dapat langsung diorbitkan pada kancah internasional. Karena perlombaan tingkat internasional tidak melulu harus melalui level provinsi maupun nasional, soalnya belum tentu kontestasi secara berjenjang dilakukan. Era kini membuka peluang untuk short cut seseorang untuk langsung muncul ke level puncak dengan adanya akses informasi.

Ah ini mungkin hanya lamunan pagi saja yang lompat-lompat dikepala… saya hanya menyayangkan jumlah penduduk yang > 261,1 juta jiwa hanya terserak begitu saja, dan mungkin kita bagian diantaranya.
Ayo kerjo, kerjo, kerjo…***

Leave a Reply

Sketsa