Diberdayakan oleh Blogger.

Universitas Media Sosial


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Apa gunanya kita sekolah tinggi-tinggi hingga mendapatkan gelar sarjana, master, spesialis bahkan doktor di zaman gila ini? Toh keahlian dan kepakaran kita tidak akan dijadikan rujukan masyarakat khususnya pengguna media sosial. Kita yang jungkir balik sekolah meneliti suatu detail persoalan seringkali pendapatnya malah dicampakan, dibantah, hingga dibully oleh mereka yang sekolahnya di bangku Universitas Media Sosial.

Bayangkan para mahasiswa Univeristas Media Sosial yang 'profesinya' membaca aneka postingan beraneka sumber, menghimpun informasi antah berantah lalu me-reproduksi dengan bumbu penyedap disertai foto photosop lalu mereposting satu isu bisa mendapatkan pengikut dan dimakmumi ribuan hinggu jutaan jamaah/follower. Dan kerennya lagi dia bisa ‘menguasai’ segala bidang isu dan ilmu, mau memposting perihal politik, hukum, keamanan, komunikasi, kemiskinan, ekonomi, tehnologi, bahkan kesehatan selalu mendapatkan hati para jamaah, sehingga postingannya selalu di like, direpos oleh masyarakat.

Beda nasib dengan kita,  menuliskan pandangan sesuai dengan keahlian, bersumber dari mereview buku, serta analisis peristiwa kemudian mempostingnya kedalam media sosial, mungkin paling banyak 30 orang yang membaca, 20 orang me-like, dan hanya 2 orang yang me-repost. Sedikit sekali yang menyukai, padahal apa yang kita posting adalah bidang kepakaran kita yang bisa dipertanggungjawabkan. Walaupun situasi tersebut sebetulnya ujian ikhlas dan agar tidak ujub karena mungkin bukan di media sosialah panggung kita, walaupun tetep ‘nyebelin’ kok isu yang kita kuasai malah tak laku, yang laku malah mereka yang tidak jelas nasab keilmuannya.

Ini kejadian dalam group Whats Up (WA) keluarga misalnya, sebagamana biasa aneka isu di posting dalam WA yang paling sering kita temui adalah hal yang diposting/ dicopy paste tidak jelas dari mana sumbernya. Hingga satu waktu ada anggota keluarga mengirim satu artikel tentang politik yang isinya hoax, lalu isi berita tersebut dibantah oleh saudara yang secara kepakaran memang ahli politik mendapatkan gelar doktornya-pun di luar negeri, namun nasibnya adalah jamaah WA malah mempercayai artikel hoax dan tidak setuju dengan pendapat saudara yang memang ahli di bidangnya. 

Seringkali kejengkelan-kejengkelan tersebut hadir dalam aneka group WA atau media sosial lainnya saat mereka yang awam lantas merasa lebih, paling bahkan maha tahu hanya karena dia membaca aneka postingan sesat yang ia imami. Banyak dokter anak yang frustasi menghadapi golongan anti vaksin yang awam namun sok tahu, dengan membantah melampirkan artikel-artikel yang tidak bisa divalidasi, sedangkan si dokter hingga ia mendapatkan gelar Spesialis Anak butuh belasan tahun merintis keahlian mulai dari pendidikan dokter, magang, menulis aneka jurnal ilmiah hingga mengambil profesi dengan mudah dicampakan pendapatnya.

Sama halnya dengan teman yang menuntut ilmu agama hingga ke negeri Mesir, seolah menjadi kanak-kanak dalam diskusi grup WA, segala pendapatnya dibantah oleh teman lain yang mendapatkan ilmu agama dari internet merujuk pada bacaan seliweran postingan artikel demi membenarkan pandangannya.

Universitas Media Sosial telah menjungkirbalikan penghargaan atas keahlian, kepakaran suatu disiplin ilmu dan menabrak etika profesi. Semakin miskin penghargaan seseorang atas kepakaran, keahlian atas disiplin keilmuan seseorang, karena rasa sok tahu yang semakin menjadi. Zaman dulu kita begitu hormat dan segan pada guru, dokter, dosen, ustad, insinyur dan mereka yang ahli karena kita tahu butuh proses panjang hingga berdarah-darah untuk bisa menjadi pakar dibidangnya.

Semoga kita bukan jadi bagian dari mereka yang merasa maha tahu****

gambar :https://satujiwa.dutadamai.id/mengarifi-media-sosial-menghindari-jerat-meraih-manfaat/

Leave a Reply

Sketsa