Diberdayakan oleh Blogger.

Ibu Omah


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments


Ibu Omah hanyalah pedagang sayur keliling yang saban pagi menjadi langganan Ibu. Kemarin sepulang kantor, Ibu menunjukkan kerudung panjang berwarna Krim  berbahan bagus pemberian Ibu Omah. Dalam ingatan saya sepanjang cerita Ibu tentang Ibu Omah, sudah tak terhitung Ibu Omah memberikan buah tangan buat Ibu, mulai dari keripik, kue, terkadang sabun atau sampo, menjelang lebaran tahun lalu memberikan kain batik dan menjelang lebaran tahun ini memberikan kerudung panjang. Entahlah, bagi saya rasanya mengharu biru ketika seorang pedagang sayur keliling memberikan buah tangan buat pembelinya “tanpa syarat”.

Ibu sering bilang Ibu Omah yang berparas ayu, mungkin dengan paduan kerudung dan kecantikan wajahnya tidak ada yang mengira jika tidak sedang membawa bakul sebagai seorang tukang sayur keliling. Suaminya adalah ustad yang juga sahabat karib kakak saya. Ayahanda Ibu Omah adalah seorang pimpinan pesantren di Bekasi, tuntutan hidup membuat Omah dan suami menanggalkan identitas mereka tanpa sedikitpun gengsi. Ibu pernah bertanya kenapa memilih berjualan sayur keliling, memanggul beban begitu berat, padahal jadi ustazah di pesantren mungkin berpenghasilan dan lebih bermartabat. Jawaban Ibu Omah sederhana namun menggetarkan “Bu, mampu saya hanya berjualan sayur, menjadi ustazah juga di pesantren salafiyah yang sebagian besar santrinya tidak mampu… Jika saya gengsi, karena Ayah saya punya pesantren atau suami juga punya pesantren bagaimana menyambung hidup anak saya, yang penting saya dititipkan badan oleh Allah tetap sehat dan yang dijual barokah”.

Bagi saya dan keluarga Ibu Omah adalah guru kehidupan dan tempat bercermin, jika tidak salah Ibu Omah baru melahirkan, usia kandungannya tidak jauh berbeda dengan istri saya, namun luar biasa Allah anugerahkan kebugaran dan kekuatan, hingga usia kandungannya 8 bulan Ibu Omah masih berkeliling berjualan sayur dan saat ini saat bayinya mungkin berusia 3 bulan sudah berjualan kembali. Tidak ada kekhawatiran keguguran atau rahim turun, mungkin sekenario Allah menganugerahkan fisik yang kuat. Ketika Ibu Bertanya, bagaimana kabar anaknya, Ibu Omah menjawab “Hamdulillah sehat, kalau ditinggal berjualan sayur juga tidak rewel, tidak merepotkan ke santri yang dititipkan”. 

Saya teringat beberapa bulan lalu, Ibu Omah menurunkan sayuran dari tukang ojek di depan rumah kemudian memanggulnya berkeliling dari rumah ke rumah, Hamdulillah saat ini suami Ibu Omah sudah terkredit sepeda motor sehingga teringankan bisa berkeliling dengan sepeda motor dibonceng suaminya. Terkadang keluhan juga muncul dan membuat kami haru “Banyak Bu yang berhutang ke saya, ada yang 100 ribu, 50 ribu, doakan ya segera pada membayar, biar uangnya bisa saya belanjakan sayur lebih banyak”.

Bagi saya banyak petikan hidup dari sosok Ibu Omah, mulai dari keyakinannya akan rizki, jika kita berhitung matematis berapa sih keuntungan seorang pedagang sayur, namun dengan kebesaran jiwanya Ibu Omah memberikan Ibu berbagai buah tangan. Ibu Omah punya keyakinan dalam hati jika ia tidaks emata-mata jual beli, melainkan “berniaga dengan Allah”, ia yakin Allah yang melipatgandakan rezekinya.

Ibu Omah hidup tanpa gengsi melainkan sangat “sadar diri”, ia menanggalkan identitasnya sebagai istri seorang ustad, menanggalkan identitas ayahnya sebagai pemilik pesantren, dengan paras ayu dan label hidup Ibu Omah tanggalkan demi keberkahan dan rizki halal bagi anak-anaknya.

Bagi saya Ibu Omah adalah anomali pada zaman kini, Malaikat kecil yang menginspirasi hidup tanpa menggurui…Dia berdakwah dengan bakul sayurnya agar kita yang lebih mampu secara ekonomi harus lebih banyak lagi bersedekah, tidak gengsi dengan rupa dan identitas, serta bekerja keras menjemput rizki Allah. Semoga Allah anugerahkan sehat untuk Ibu Omah dan terus membantu kami bermuhasabah.***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa