Diberdayakan oleh Blogger.

Archive for 01/06/11 - 01/07/11

DARI KELUARGA KORUPSI BERMULA


posted by rahmatullah on

No comments

Kebetulan saat ini saya mengampu dua mata kuliah pada Jurusan Administrasi Negara, yaitu Kepemimpinan Sektor Publik dan Perencanaan Pembangunan Daerah. Bagi saya beban tersendiri ketika diberikan amanah mengampu dua mata kuliah tersebut, karena terkait dengan bagaimana menumbuhkan karakter kepemimpinan dan bagaimana mahasiswa pada saatnya ketika duduk di pemerintahan bisa merencanakan pembangunan dengan benar, tidak merencanakan negara atau daerah gagal sebagaimana terjadi saat ini.

Sepintas, mengajar merupakan rutinitas biasa, yang jika kita ingin output dan outcome dan impac-nya biasa, maka kita hanya sekedar menunaikan kewajiban, menyampaikan runtutan materi yang bersumber dari berbagai literatur, namun miskin pemaknaan, penghayatan, pencerminan dan tidak akan kekal dalam ingatan mahasiswa, apalagi berharap diterapkan dalam keseharian aktivitas.

Saya mencoba dan berusaha memberikan pemaknaan lebih kepada mahasiswa, agar proses pembelajaran tidak bersifat semu, ibarat rasa sambal, terasa pedas namun sesaat. Saya kaitkan materi kepemimpinan dengan fenomena kekinian, fenomena kepemimpinan lokal yang bersifat kolegial, kelambanan pemimpin negara dalam merespon masalah dasar bangsa, kepemimpinan tanpa melayani tapi murni mengejar kuasa, fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah menjadi budaya baru bangsa. Setitik harapan saya, agar kelak ketika saatnya mereka jadi pemimpin tidak mengulang cacat  yang sama. Jangan sampai hari ini kita mencela, mencerca dan menertawakan seorang koruptor misalnya, malah pada saatnya kita diperlakukan sama oleh orang lain.

Dalam perencanaan daerah saya kemukakan bahwa kegagalan sebuah daerah dimulai dari kegagalan dalam perencanaan, ketidaksinkronan antar dokumen perencanaan secara berjenjang, yang pada akhirnya perencanaan tidak pernah terpadu, tidak menjawab akar kebutuhan masyarakat. Ibarat dokter yang salah mendiagnosa penyakit yang pada akhirnya salah mengamputasi. Kronisnya kegagalan perencanaan ditambah dengan kepemimpinan yang korup, pada akhirnya menjadikan daerah yang tidak pernah beranjak walau usianya sudah lebih dari 50 tahun.

Ada mahasiswa yang bertanya “Pak bagaimana upaya yang paling sederhana dalam menanggulangi korupsi?”.  Saya coba menjawab sederhana, menjaga dari korupsi itu dimulai dari keluarga, jika kita sebagai anak, jangan pernah meminta sesuatu yang tidak sepadan dengan penghasilan orang tua kita, begitu juga dengan Ibu di rumah, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang, hasrat konsumsi yang banyak tidaks epadan dengan penghasilan suami, maka bersyukurlah dengan kesederhanaan.

Seorang Ayah yang korup, padamulanya dikarenakan banyaknya tuntutan yang berasal dari keluarga, anak yang selalu bergaya hidup mewah, menggunakan pakaian dan gadget terbaru, memiliki hobi atas dasar gengsi pergaulan, jika tidak diturutkan akan mengancam. Selain juga Ibu yang konsumtif, terpengaruh oleh pola hidup lingkungan sekitar, gaya hidup komunitas seperti arisan, gosip antar tetangga, yang pada akhirnya memaksakan diri membeli perhiasan, kendaraan, mengkredit ini dan itu, yang pada akhirnya terancam tuntutan gaya hidup mengantarkan suamiuntuk korupsi. 

Pada dasarnya keluarga adalah pilar yang bisa menjaga terjadinya korupsi dan juga sebaliknya, langkah awal menjerumuskan seorang Ayah atau suami untuk melakukan korupsi, lalu menjadikannya sebuah kebiasaan. 

Idealnya seoarang anak maupun istri memulai budaya bertanya kepada Ayah atau Suami, jika ada hal yang mencurigkan diluar pengetahuan kita mengenai penghasilan Ayah atau suami, misalnya mendapatkan kendaraan, membeli tanah, rekening tabungan yang bertambah tiba-tiba, membeli perhiasan, gonta-ganti gadget yang secara matematis tidak terjangkau untuk dibeli, dan lainnya. Pastikan sumber uangnya  darimana, siapa yang memberi, lewat jalan mana.  Jangan pernah ragu untuk betanya dan mengingatkan, karena jika kita bertoleransi lalu tidak mencurigai, maka korupsi akan menjadi budaya, bukan berupaya memberantas, malah menyuburkan dan membiarkan terus berkembang. Bayangkan jika satu keluarga membiarkan korupsi kecil, keluarga, tetangga dan rekan kerja mentoleransinya, menganggap bukan perbuatan tabu, maka ibarat virus akan menyebar dengan mudah pada keluarga lainnya. Jika itu kolektif, bisa jadi seluruh warga negara melakukan hal yang sama atas dasar kebiasaan dan pembiasaan, tidak ada lagi rasa malu.

Bekal itu yang selalu saya ulang saat tatap muka dengan mahasiswa, agar tumbuh karakter kepemimpinan mereka, agar punya rasa malu, jujur, dan bersih. Jangan sampai rengekan mereka untuk mendapatkan Blackberry, laptop, pakaian, kendaraan, dan lainnya, malah menstimulasi langkah awal Ayah mereka untuk melakukan korupsi.***

TIGA EKOR AYAM


posted by rahmatullah on

No comments

Empat tahun silam saya terlibat penelitian Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan yang diselenggarakan Pusat Studi Kebijakan Kependudukan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) – World Bank. Secara kebetulan mendapatkan lokasi penelitian di Kabupaten Sukabumi. Banyak teman-teman yang berekeberatan ditempatkan di wilayah tersebut, karena sukabumi merupakan Kabupaten terluas di Pulau Jawa Bali. Sedangkan penelitian yang dilakukan merupakan home visit, dimana panitia pusat sudah menetapkan lokasi kecamatan, desa, hingga rumah Kepala Keluarga (KK) yang wajib didatangi.

Banyak teman maupun keluarga yang menasihati untuk berhati-hati karena kabarnya Sukabumi sangat rawan, banyak begal motor, pusat ilmu hitam dan kebatinan, wanitanya cantik-cantik, dan banyak nasehat lainnya. Dengan langkah Bismillah saya dan 10 orang rekan berangkat menuju lokasi, memulai dari Kecamatan yang dekat pusat kota hingga menyusur pedalaman Sukabumi yang akses antar kecamatan bisa satu sampai dua jam. Tantangan terberat adalah medan jalan yang sungguh memprihatinkan, sepeda motor yang kami sewa kadang tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Hampir semua jalannya penelitian terekam dalam memori saya karena begitu berkesan bertemu dengan masyarakat ‘lembur’ Sukabumi, hingga jauh ke pedalaman sukabumi yang warga Kota Sukabumi sendiri belum tentu pernahke wilayah tersebut karena jarak yang amat jauh, sebut saja Kecamatan Tegal Buleud, Ciracap, Ciemas dan Bangbayang yang merupakan wilayah paling selatan di Pulau jawa. 

Ada satu pengalaman menarik dan jika mengingatnya membuat terharu…  Ketika mengunjungi salah satu Kepala Keluarga (KK), saya lupa Kecamatan mana, sepertinya Ciracap, yang ada di rumah tersebut hanyalah istri dari KK, sedangkan suaminya sedang pergi ke ladang. Saya dan teman mengemukakan maksud kedatangan untuk melakukan penelitian, dlsb. Namun Ibu tersebut menjawab dalam bahasa sunda yang saya Indonesiakan ”Saya jemput dulu bapak ke ladang ya”, walau saya bilang tidak usah, diwakili ibu juga tidak apa-apa. Ibu tersebut bersikeras menjemput suaminya ke ladang. Lumayan kami menuggu sekitar setengah jam. 

Dengan berkeringat menyandang cangkul dan mengumbar senyum, sang Bapak, sebut saja Pak Ahmad, karena saya sudah lupa namanya, menyalami  kami dan meminta maaf jika rumahnya alakadarnya, rumah dari bambu beralas kayu dan beratap rumbia.

Pendek cerita, saya lakukan wawancara, mulai dari identitas, pekerjaan, penghasilan per bulan, makanan pokok, dan lain sebagainya,termasuk mendata berapa jumlah ternak. Sampai saat ini saya masih ingat satu pertanyaan yang membuat terngiang  “Bapak punya ayam berapa ekor?”, Pak Ahmad menjawab “ Tiga ekor, satu induknya, sama dua anaknya yang masih kecil”.

Dari data yang saya isikan, Keluarga Pak akhmad terkategorikan sebagai keluarga miskin, baik dilihat dari indikator kondisi rumah, pendapatan, hingga makanan sehari-hari. Beliau sekeluarga terbilang makan mewah sejenis lauk pauk, hanya setahun dua kali, jika lebaran Idul fitri dan Idul Adha saja, sisanya makan nasi dengan garam, ikan asin atau tempe.

Sebetulnya saya agak ‘risih’ ketika sesi wawancara, Pak Ahmad menghidangkan penganan yang mungkin merekapun jarang memakannya, sang istri diminta ke warung untuk membeli kopi dan berbagai penganan. Diakhir wawancara, ketika kami izin pamit pulang, Pak Ahmad menahan kami, “Nanti Pak, kita makan dulu aladarnya”, saya menjawab “Tidak usah pak, saya harus mengunjungi rumah yang lain”, kemudian Pak Ahmad menjawab “Ayo sebentar saja, sekedar mencoba masakan istri saya, sayang beliau sudah masak”.

Akhirnya kami menunggu sejenak, tak lama istri Pak Ahmad datang membawa sebakul nasi, sambal dan Ayam Bakakak (Ayam bakar utuh), saya tertegun melihat ayam bakakak tersebut, karena ukurannya masih kecil, bisa disebut ayam muda. Kamipun makan dan herannya Pak Ahmad tidak menyentuh ayam tersebut, hanya mencocol nasi dengan garam, mungkin ayam itu khusus diperuntukan bagi saya dan teman. Saya baru sadar beliau lakukan itu semua sebagai bentuk penghargaan terhadap tamu. 

Sambil makan saya sebetulnya berpikir, jangan-jangan ayam bakar ini adalah anak ayam yang Pak Ahmad sebutkan tadi. Pada akhirnya sayapun bertanya “Pak maaf, ayam yang dibakar ini, anak ayam yang Bapak sebutkan tadi?”. Bapak menjawab “Iya pak, sekarang jadi tinggal dua ekor lagi induk ama anaknya”, sambil tersenyum Pak ahmad menjawab.

Dalam penelitian, ini kasuistik karena saya harus merubah data, dari tiga ekor, menjadi dua ekor. Tapi ada yang jauh lebih dalam saya pikirkan, yaitu sebegitu besarnya pengharaan Pak Ahmad kepada tamu, begitu luar biasa beliau muliakan saya dan teman. Saya yakin ayam yang beliau miliki adalah harta yang amat berharga baginya, yang mungkin baru akan dipotong idul fitri nanti. Entahlah, bagi saya beliau ‘bak’ malaikat, padahal hanya bertemu sekali, itupun tak lebih dari tiga jam saja.

Kekaguman belum berakhir ketika saya dan teman pamit pulang, saya lupa dimana menyimpan kunci motor, linglung saya dibuatnya karena menghitung waktu, jika tertunda pulang bisa jadi malam sampai base camp dan dengan resiko bertemu begal, karena sepanjang jalan memang hutan. Saya sibuk dan Pak ahmad serta istrinya tak kalah sibuk mencarikan. Saya tersadar jika kunci kontak memang sudah longgar/ loncer, mungkin terjatuh dari kontak motor ketika perjalanan ke rumah Pak Ahmad.

Saya baru teringat jika tempat kunci kontak sudah rusak dan bisa diganti oleh kunci apapun yang penting ukurannya pas. Dua jam kami berjibaku mencari kunci dan pengganti yang cocok, pada akhirnya istri Pak Ahmad menghampiri, “Coba pake kunci lemari ini Pak, mudah-mudahan cocok”. Walau tidak yakin saya coba, dan ajaib ternyata pas, sepeda motor bisa menyala, tuntas satu maslah, tapi masalahnya saya harus pinjam kunci lemari tersebut dan entah kapan bisa mengembalikan, karena padatnya agenda penelitian. Tanpa saya duga Pak Ahmad bilang “Bawa saja pak, kami tidak terlalu membutuhkan kunci itu, karena tidak ada yang berharga dalam lemari kami, yang penting Bapak bisa segera pulang sebelum magrib tiba”. 

Sudah empat tahun lebih kisah tiga ekor ayam berlalu, dan mungkin tidak pernah bisa saya lupakan. Pak Ahmad setara dengan Paman Adung (http://www.eramuslim.com/oase-iman/tribute-to-paman-adung.htm),  yang begitu “hebat” menginspirasi hidup saya. Saya hanya bisa berdoa jika mengingat kisah Pak Ahmad, dan kisah orang-orang lain yang menginspirasi, semoga Allah semakin mengangkat derajat dan  melipatgandakan amal  mereka. Berharap kedepan berkesempatan bertemu Pak Ahmad dengan ternak ayam yang sudah bertambah, tidak lagi dua ekor.***

HILANG RASA


posted by rahmatullah on

No comments

Pada mulanya saya tidak sepakat dengan apa yang dikemukakan Prof. Robert Lawang, ketika dalam satu perkuliahan Kapital Sosial, beliau kemukakan bahwa kearifan lokal itu mulai musnah di mana-mana, tidak hanya di kota, bahkan menjalar hingga ke desa.  Dalam segala kepolosan, saya coba membantah jika kearifan lokal itu ada dan menjadi domain masyarakat Indonesia khususnya orang desa, karena kearifan itulah ‘kekayaan terbesar’ yang dimiliki. Dalam kelembutan dan kerendahatian seorang Guru Besar, Prof Lawang menuturkan bahwa, saya merasakan sekali kehilangan itu, sebagaimana pengalaman penelitian atau ketika meberikan bantuan ke pedalaman-pedalaman di Indonesia.

Prof Lawang bercerita, ketika beliau memberikan bantuan pembangkit listrik Mikrohidro kepada warga di beberapa desa Nusa Tenggara Timur, tidak semua warga merelakan tanahnya yang hanya sekitar satu sampai dua meter persegi untuk dilewati alur air ke pembangkit. Rapat berulang-ulang hanya membahas ketidakmauan warga meminjamkan tanahnya untuk dilalui jalur air. Tidak semua anggota masyarakat mau terlibat dalam forum warga untuk dimintai partisipasinya hanya sekedar tenaga untuk mencangkul di lokasi pembangkit. Prof. Lawang bilang bahwa saya nyaris membatalkan pemberian bantuan pembangkit mikro hidro, jika tidak diminta bersabar oleh salah satu pimpinan daerah yang juga sahabat saya. Sampe akhirnya Pembangkit bisa beroperasi dan desa tersebut terang benderang, tidak nampak rasa malu dari mereka yang tidak mau menyerahkan lahan, padahal mereka pula yang merasakan terangnya listrik d rumah mereka.

Mungkin penolakan saya terhadap apa yang dikemukakan Prof. Lawang hanya karena dogma di benak saya jika orang desa itu arif, bijak, guyub, saling menolong, tanpa pamrih. Rupanya memang semua itu sudah bergeser jauh. Saya teringat pengalaman pribadi ketika mengelola program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggungjawab sosial perusahaan pada satu perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Batulicin, Kalimantan Selatan. Saya bekerja mengelola CSR dengan membangun kedekatan tanpa batas, tanpa simbol atau borderless, agar penilaian dan program yang saya jalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Asumsi saya kalau berjarak maka yang ada hanyalah formalitas, bukan menjawab kebutuhan tapi keinginan masyarakat yang sifatnya artifisial.

Beberapa kali program atas nama perusahaan saya sampaikan, dan Kepala Desa sering berucap terimakash atas pembangunan desa yang tidak lain karena kontribusi perusahaan. Suatu saat jembatan yang menghubungkan desa denga perusahaan yang terbuat dari Kayu Ulin (kayu terkuat, mengalahkan kekuatan kayu jati) retak dan nyaris patah. Saya coba minta Kepala Desa untuk menghitung kebutuhan kayu dan biaya tukang karena akan dibantu perusahaan. Saya bahagia karena ketika mengunjungi lokasi jembatan sudah mulai proses perbaikan oleh masyarakat setempat, dihati saya membuncah perasaan kagum, begitu harmoni dan guyubnya perusahaan dan masyarakat lokal. Sampai satu sore datang secarik kertas yang isinya estimasi biaya perbaikan jembatan yang ternyata semua harga di mark up sepuluh kali lipat, dan jika tidak dibayar sore itu juga, jembatan tidak akan dilanjutkan diperbaiki dan akses ke perusahaan akan ditutup.

Masih ditempat yang sama, ketika saya begitu intens membantu perbaikan sekolah dan mutu SDM guru Sekolah Dasar (SD),karena sebagaian besar Guru di pedalaman Kalimantan Selatan Hanyalah lulusan paket C. Tidak jarang sayapun bantu mengajar, memutarkan film motivasi seperti Denias atau Laskar Pelangi, dll setiap hari sabtu. Suatu saat sekolah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah untuk pembangunan beberapa lokal kelas dan bantuan mebeler. Datang seorang Guru ke Mess tempat saya tinggal memohonkan bantuan disediakan truk untuk membawa bantuan mebeler dan material dari Kota Kabupaten. Dengan senang hati saya siap bantu dan besok pagi saya siapkan dua unit truk dan supirnya. Dua hari berikutnya datang seorang tokoh masyarakat  menemui saya, dan mengungkapkan kegusaran, mengapa bapak bantu sekolah itu, karena dalam penganggarannya ada biaya untuk angkut material dari kota hingga lokasi sekolah sambil memperlihatkan mata anggaran dalam proposal yang sudah disetujui pemerintah.

Entah saya hanya berpikir memang masyarakat kini telah “hilang rasa”, jika melihat pemberitaan di televisi maupun koran sikap culas, korup, nepotisme, kolusi, maruk, pragmatis, munafik bukan hanya domain orang kota yang direpresentasikan oleh politisi, pejabat, dan pengusaha. Tapi gejala itu sudah menjalar kemana-mana menembus ruang dan batas hingga ke desa. Efek televisi memang kuat karena di pedalaman Kalimantan yang sebagian rumahnya beratap rumbia, mereka memiliki parabola, TV dan genset, sehingga mereka tau info terkini di ibu kota, namun yang membuat prihatin gaya hidup instanlah yang mereka serap. Berkali-kali saya geleng kepala ketika banyak orang kampung dipedalaman memakai baju seksi dan pake rok mini, membeli kulkas walau tidak ada listrik, beli sepeda motor matic padahal jalan berkubang lumpur. Setiap malam yang mereka tonton hanyalah sinetron yang pada akhirnya mereka berasumsi apa yang mereka liat di TV adalah kenyataan orang kota yang mereka ikuti perilakuknya habis-habisan.

Dalam pandangan saya, negeri ini sudah gersang dari rasa simpati, empati, tenggang rasa, ikhlas, saling menolong,  guyub. Karena memang yang dipertontinkan dari hari-ke hari di media adalah dramaturgi dan keculasan yang tanpa disadari dipraktekan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat dari kota sampe desa. Menyedihkan ketika kejujuran malah mebuat seseorang terasing, idealisme dan kemuliaan agama tergadai oleh kepentingan politis dan uang.

Pengalaman menarik dua malam lalu ketika saya menambal ban belakang sepeda motor. Sambil ganti ban dalam saya ajak ngobrol hangat si penambal ban. Ketika selesai saya tanya berapa semuanya?. Si penambal bilang 50 ribu pak, saya juga sadar jika harganya tidak segitu, karena saya pikir malam-malam masih mau menambal ban dan dalam kondisi hujan, akhirnya saya bayar. Besok paginya saya terkaget-kaget ketika mengeluarkan motor melihat as ban belakang hampir tanggal karena baut penutup tidak dipasang. Saya menghela nafas Hamdulillah masih terselamatkan, terbayang jika semalam dalam perjalanan ban belakang copot menggelinding. Paginya dengan resiko terlambat masuk kantor saya datangi tambal ban tersebut untuk minta memasang tutup mur, jawabannya menyebutkan “Gak ada pak, Bapak beli saja di lampu merah sana”. Saya hanya bisa tersenyum pias mendengarnya.

Cerita tambal ban hanyalah satu contoh dari banyak contoh lain yang semua orang pernah mengalami, ketika ingin membantu mereka yang berekonomi lemah sering rasanya kita dikecewakan, beli cabe atau buah-buahan di warung kecil, saat di rumah kita buka isinya sebagian besar busuk. Ketika ke percetakan kecil janji hari ini jadi, seminggu berikutnya baru selesai, makan di warteg memang murah tapi makanan di campur msg dan zat yang bersiko dengan tubuh. Dan banyak hal lain yang sering kita alami terkait “hilangnya rasa” tulus melayani, saling membantu, dan jujur yang itupun dipraktekkan masyarakat bawah. Saya hanya berpikir sederhana, jika kita sudah tidak percaya, maka mereka akan kita tinggalkan. Siapa lagi yang akan membeli dan membantu usaha kecil jika mereka tidak bisa dipercaya.  Walaupun memang masih banyak yang bisa kita percaya, namun terancam terdegradasi pula.

Perlu usaha keras mengembalikan jatidiri bangsa ini, jatidiri masyarakatnya. Kita beragama tapi tidak terpancar dari keseharian dan kehidupan, kita berpancasila tapi hanya berbekas simbol tanpa penjiwaan. Hal sederhana bisa kita lakukan adalah menumbuhkan kembali “rasa” itu dikeluarga, rasa ingin membantu, menolong, ketulusan, kejujuran dan rasa memiliki. Jika tidak lekas dibenahi, negara ini hanyalah menjadi negara gagal yang penduduknya hanyalah ‘gerombolan’.***

Negara Saya Maju Karena Rasa Malu


posted by rahmatullah on

No comments

Suatu saat saya berbincang dengan Gabriel Facal, seorang mahasiswa program doktoral Antropologi dari Prancis yang sedang meneliti Pencak Silat di Banten. Saya ingat obrolan itu persis malam terakhir sebelum Gabriel Pulang mengakhiri penelitiannya di Banten.

Sebetulnya hanya obrolan ringan namun bagi saya dalam maknanya. Empat bulan Gabriel di Kota Serang dan wilayah Banten lainnya, setidaknya cukup baginya mengungkapkan hipotesa tentang kondisi  masyarakat yang tidak beranjak, yang miskin semakin miskin dan tereksploitasi, yang kaya semakin bertambah kekayaannya. Intinya begitu senjang kondsi ekonomi masyarakat di Banten, mungkin begitu juga di Indonesia. Gabriel bilang penyakitnya memang sama di belahan dunia manapun terutama di negara berkembang, yakni korupsi, orang-orang yang punya akses kuasa dan usaha mengeksploitasi hak-hak yang seharusnya menjadi milik masyarakat tanpa sedikitpun rasa empati.

Satu hal yang membuat saya terenyuh, ketika Gabriel bilang, problem utamanya adalah kualitas pendidikan yang masih rendah, dan karakter masyarakat yang mudah lupa. Gabriel mengungkapkan bahwa masyarakat di Banten mudah lupa jika kaus atau kerudung yang  dibagi-bagikan calon gubernur atau Bupati mungkin seharusnya digunakan untuk mengaspal jalan, membangun sekolah atau memperbaiki pasar. Namun pemberian yang sesaat bisa menutup kekurangan yang dimiliki seorang pemimpin. Padahal kelak nasibnya akan tergadai selama lima tahun kedepan.

Satu hal lagi yang Gabriel kemukakan, klo kami di Prancis, harga diri dan rasa malu adalah nomor satu dan itu selalu diwariskan orang tua kami. Cerita sejarah tentang perjuangan pahlawan-pahlawan di negara kami yang membuat kami bangga akan negara kami dan tidak ingin mempermalukan negara kami. Mungkin doktrin yang disampaikan orang tua kami yang membuat masyarakat di Prancis malu untuk korupsi. Yang ada dalam benak kami adalah kami harus berkontribusi terhadap kemajuan negara kami. Benar atau salah yang dilakukan para pahlawan kami dulu, yang pasti kami bangga. Dan yakini bahwa kualitas pendidikan yang baik pada suatu bangsa akan meningkatkan derajat bangsa tersebut.

Gabriel memang sudah pulang ke Prancis, yang pasti apa yang beliau kemukakan tidak luruh dalam ingatan saya. Berjibun rasanya kami punya pahlawan beserta kisah heroiknya, tak terhitung kisah penjajahan yang bangsa kami punya, tapi mungkin semua berhenti hanya pada teks-teks buku sejarah dan gambar-gambar pahlawan yang rupanya tidak mampu menghidupkan batin kami sebagai masyarakat Indonesia yang entah sedang pergi kemana harkat dan martabatnya.***

PRAKTIK BISNIS BERTANGGUNGJAWAB SOSIAL


posted by rahmatullah on

No comments



Motorola membayangkan masa depan di mana pabrik-pabrik kami bebas- kecelakaan, tanpa limbah, hanya mengeluarkan emisi tak berbahaya, penggunaan energi yang sangat efisien, dan buangan limbah produk kami digunakan sebagai bahan untuk produk baru. Kami berada di ambang era baru di mana kita semua-perusahaan, individu, pemerintah, dan organisasi- dapat bergabung bersama untuk bekerjasama dalam “penyembuhan” bumi kita. Kita tidak bisa lagi mampu untuk melihat diri kita sebagai terpisah. Kita semua saling berhubungan dan mempengaruhi bagian dari keseluruhan dan apa yang kita lakukan hal-hal dan keseluruhan. Ketika kita merugikan lingkungan, kita merugikan diri kita sendiri. Tantangan kita untuk milenium baru adalah belajar bagaimana untuk hidup dalam harmoni dengan bumi kita! (Pernyataan Visi Lingkungan Motorola)

Praktek bisnis yang bertanggung jawab sosial adalah dimana korporasi beradaptasi dan melakukan praktek kebijakan bisnis dan investasi sosial yang  mendukung untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas dan melindungi lingkungan. Perbedaan utama berfokus pada kebijakan kegiatan, bukan mereka yang diamanatkan oleh undang-undang atau peraturan atau hanya diharapkan, karena memenuhi standar moral atau etis. 
Komunitas diinterpretasikan secara luas untuk mencakup karyawan perusahaan, pemasok, distributor, mitra dari sektor nirlaba dan masyarakat, serta anggota masyarakat umum. Dan kesejahteraan bisa merujuk kepada kesehatan dan keselamatan, serta kebutuhan psikologis dan emosional.
Selama dekade terakhir telah terjadi pergeseran yang jelas dari mengadopsi praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab sebagai akibat dari peraturan, keluhan konsumen, dan tekanan kelompok minat khusus, untuk penelitian proaktif menjajaki solusi korporat untuk masalah sosial dan menggabungkan praktek-praktek bisnis baru yang akan mendukung beberapa issue (misalnya, Kraft memutuskan pada tahun 2003 untuk merevisi beberapa praktek bisnisnya untuk membantu mengatasi kenaikan lanjutan obesitas di negara kita).

Mengapa terjadi pergeseran  ini?
þ  Ada semakin banyak bukti didokumentasikan dan menunjukkan bahwa praktek bisnis yang bertanggung jawab sosial benar-benar dapat meningkatkan keuntungan (misalnya, Chiquita kuantifikasi senilai $ 5 juta tabungan tahunan dengan menggunakan bahan kimia yang lebih sedikit) dan memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan (misalnya, apa yang dilakukan McDonald's membuat menu baru orang dewasa baru Meal "Happy" yang terdiri dari salad, sebuah buku latihan, dan alat pengukur langkah).
þ  Di pasar global, konsumen memiliki lebih banyak pilihan dan dapat membuat pilihan berdasarkan kriteria di luar produk, harga, dan saluran distribusi. Penelitian disajikan dalam Bab 1 menekankan bahwa konsumen juga mendasarkan keputusan pembelian mereka pada reputasi untuk praktek bisnis yang adil dan berkelanjutan dan persepsi dari komitmen untuk kesejahteraan masyarakat.
þ  Investor dan stakeholder lainnya juga dapat menjadi kekuatan pendorong, dengan pengawasan publik meningkat dan menggunakan taktik tekanan lebih canggih, termasuk penggunaan teknologi dan kekuatan Internet (misalnya, sebuah siaran e-mail yang dikirim dari kelompok anti-tembakau).
þ  Dalam hal produktivitas pekerja meningkat dan retensi, telah membuat pimpinan perusahaan berubah pandangannya terhadap cara-cara untuk meningkatkan kepuasan karyawan dan kesejahteraan (misalnya, Coca-Cola Bottling di Afrika Selatan meluncurkan program pencegahan HIV / AIDS di tempat kerja).
þ  Adanya teknologi informasi dan media  (saluran 24 jam, seperti CNN, artikel online, email alert) membuat peningkatan pelaporan pihak ketiga membuat kegiatan perusahaan mudah terlihat, terutama bila terjadi kesalahan, menciptakan kebutuhan bagi perusahaan untuk memberikan citra  positif pada kegiatan mereka
þ  Adanya kemungkinan pergeseran para pelanggan potensial ke sikap "konsumen berhati-hatilah" dengan harapan bahwa mereka akan sepenuhnya tahu mengenai informasi praktik bisnis, termasuk isi produk, sumber bahan baku, dan proses manufaktur (misalnya, Kraft inisiatif untuk membuat paket makanan ukuran kecil dan minuman dengan label yang mencantumkan kandungan gizi dari paket) .

TIPIKAL PRAKTEK BISNIS TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Yang paling terkait dengan praktek-praktek yang bertanggung jawab sosial terkait dengan mengubah prosedur dan kebijakan internal. Seperti yang terkait dengan penawaran produk, fasilitas desain, manufaktur, perakitan, dan dukungan karyawan, yang tercermin dalam pelaporan eksternal, umumnya meliputi kegiatan sebagai berikut:
þ  Merancang fasilitas untuk memenuhi rekomendasi keselamatan dan pedoman lingkungan, seperti peningkatan konservasi energi.
þ  Pengembangan perbaikan proses bisnis, yang dapat mencakup praktek-praktek seperti menghilangkan penggunaan bahan limbah berbahaya, mengurangi jumlah bahan kimia yang digunakan pada pertumbuhan tanaman, atau menghilangkan penggunaan beberapa jenis minyak goreng.
þ  Penghentian produk yang dianggap berbahaya walau bukan illegal (misalnya, McDonald's menghentikan porsi besar Frenchfries ).
þ  Memilih pemasok berdasarkan yang mengadopsi atau memelihara praktek-praktek lingkungan yang berkelanjutan.
þ  Memilih manufaktur dan bahan kemasan yang paling ramah lingkungan, dengan tujuan pertimbangan pengurangan limbah, penggunaan sumber daya terbaharukan, dan elmiminasi emisi beracun.
þ  Memberikan informasi tentang bahan-bahan baku produk dan asal-usul mereka serta potensial bahayanya (misalnya, pencantuman pada produk kemasan jumlah latihan fisik yang dibutuhkan untuk membakar kalori dan lemak yang terkandung dalam permen).
þ  Mengembangkan program yang mendukung kesejahteraan karyawan, seperti fasilitas olahraga di tempat kerja, day care, dan Employee Assistance Program.
þ  Pengukuran dan pelaporan tujuan bisnis dan tindakan yang akuntabel , termasuk berita buruk.
þ  Menetapkan pedoman khusus pemasaran untuk anak-anak, dengan memastikan komunikasi yang bertanggung jawab dan sesuai & saluran distribusi (misalnya, tidak menjual produk online untuk anak-anak usia 18 dan di bawah).
þ  Memberikan peningkatan akses bagi penyandang cacat dengan menggunakan teknologi.
þ  Melindungi privasi informasi konsumen, terutama melalui internet (misalnya, sebuah toko online yang memungkinkan pelanggan untuk membeli produk tanpa menyediakan informasi profil demografi) .
þ  Membuat keputusan mengenai tanaman, outsourcing, dan lokasi ritel, mengenali dampak ekonomi dari keputusan ini pada masyarakat.

Meskipun berbagai industri berpartisipasi dalam menggabungkan praktek-praktek bisnis yang bertanggung jawab, di lapangan tampaknya didominasi oleh mereka dalam bidang manufaktur, teknologi dan kategori industri pertanian, di mana keputusan yang lebih dibuat tentang rantai pasokan, bahan baku, operasional prosedur, dan keselamatan karyawan.
Mereka yang terlibat dalam mengusulkan dan mengembangkan praktek bisnis yang bertanggung jawab sosial yang paling sering meliputi operasi, fasilitas, tanggung jawab sosial perusahaan, dan manajer senior lainnya, dan untuk beberapa tingkat pemasaran dan perencana strategis.
Komunikasi tentang penerapan praktek bisnis yang bertanggung jawab sosial yang paling sering ditujukan kepada badan-badan regulasi, investor, pelanggan, dan kelompok-kelompok minat khusus.
Meskipun paling sering korporasi mengembangkan serta menerapkan praktek sendiri, juga dapat melakukan ini dalam kemitraan dengan lembaga-lembaga publik, organisasi nirlaba, pemasok, dan distributor.

POTENSI  MANFAAT  BAGI  PERUSAHAAN
Seperti yang akan diilustrasikan pada contoh berikut, berbagai manfaat telah dialami oleh perusahaan yang mengadopsi dan menerapkan praktek bisnis yang bertanggung jawab sosial, dan tampaknya ada peningkatan kemampuan untuk menghubungkan upaya-upaya untuk hasil keuangan yang positif.
Manfaat Keuangan telah dikaitkan dengan penurunan biaya operasi, insentif moneter dari badan pengatur, dan peningkatkan produktivitas karyawan dan penurutan terjadinya retensi.
Pemasaran sangat banyak manfaatnya, dengan potensi untuk meningkatkan niat baik masyarakat, menciptakan preferensi merek, membangun positioning merek, meningkatkan kualitas produk dan penghargaan pada perusahaan.  Dan juga memberikan kesempatan untuk membangun hubungan dengan mitra eksternal seperti lembaga hukum, pemasok, dan organisasi nirlaba.
  1. Mengurangi Biaya Operasional
Dalam contoh ini, penerapan praktek bisnis ini menyelamatkan uang perusahaan, memberikan kontribusi terhadap kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kepedulian energi di antara karyawan.
Contoh: Cisco dan Konservasi Energi
Filosofi Cisco untuk konstruksi barunya adalah "rencanakan dengan benar", yang memikirkan efisiensi energi selama tahap desain.
Cisco menggunakan teknologi energi konservasi yang inovatif untuk merancang dan membangun kampus pusat San Jose.  Fasilitas ini dibangun untuk melampaui dari standar energi yang ditetapkan California sebesar 15 sampai 20 persen.  Dengan melampaui standar, Cisco tidak hanya menurunkan biaya dan mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga mengambil keuntungan dari insentif  oleh pemasok energi lokal, Pacific Gas & Electric (PG & E).
"Di dua lokasi kantor pusat kami, yang meliputi 4.900.000 kaki persegi ruang dalam 25 bangunan, kita melestarikan rata-rata 49.500.000 kilowatt jam per tahun. Kami berharap dapat menghemat sekitar $ 4.500.000 per tahun dalam biaya operasi. Selain itu, penghematan energi yang memenuhi syarat kami untung $ 5.700.000 di PG&E saat konstruksi selesai, "kata Sheikh Nayeem, manajer energi.
Manfaat konservasi energi lingkungan di perusahaan Cisco kantor pusat San Jose juga terukur dan mengesankan. Bisa menghemat listrik 5.500 rumah. Fasilitas tersebut juga memproduksi hampir 50.000.000 kilogram lebih sedikit karbon dioksida per tahun dan lebih sedikit oksida nitrogen. Itu setara dengan mengeluarkan 1.000 mobil dari jalan raya, "kata Nayeem
  1. Meningkatkan Kebaikan (niat baik) Komunitas terhadap Korporasi
Bayangkan goodwill yang dihasilkan di Afrika dari komitmen yang kuat bahwa Coca-Cola telah meredakan epidemi tragis pada lebih dari 20 juta jiwa di negara-negara sub-Sahara Afrika.  Pada tahun 2003 diperkirakan 23.100.000 orang dewasa usia 15-19 dan 1,9 juta anak di bawah usia 15 tahun hidup dengan HIV / AIDS dan terancam dengan 9.000 infeksi baru terjadi setiap harinya.
Contoh: Coca-Cola dan HIV / AIDS di Afrika
Coca-Cola yakin bahwa masyarakat bisnis dapat berperan penting dalam memerangi AIDS dengan inisiatif programnya.  Sejak peluncuran / program HIV AIDS pada bulan November 2000, satu dorongan strategis telah memperkenalkan model program kerja mereka untuk 1.200 karyawan Afrika.  Program HIV / AIDS Workplace mencakup pembentukan Komite AIDS lokal; kondom gratis untuk semua asosiasi tersebut; kesadaran tentang AIDS  dan pencegahannya; pelatihan konselor; pelatihan dasar HIV / AIDS pada karyawan, pengujian dan konseling gratis secara rahasia; dan akses pada obat antiretroviral dan pengobatan.
Seiring dengan program ini. Coca-Cola mengembangkan HIV / AIDS kebijakan perusahaan yang memiliki komitmen untuk non-diskriminasi atas dasar HIV / AIDS status, hak untuk privasi bagi karyawan; dorongan dari pengungkapan sukarela oleh asosiasi HIV positif; tes sukarela, akomodasi yang layak; dorongan pencegahan praktek; identifikasi sumber daya masyarakat; dan mendorong kemitraan dengan pemerintah dan LSM untuk pelaksanaan / perusahaan program HIV AIDS.
Pada tahun 2002, diumumkan bahwa Coca-Cola Foundation Afrika telah memperluas komitmen ini dengan bekerja dengan 40 Coca-Cola Bottling, yang mempekerjakan 60.000 orang di Afrika, dengan melakukan program kerja sama pencegahan yang komprehensif. Estimasi biaya inisiatif ini untuk Coca-Cola Foundation Afrika antara $ 4.000.000 dan $ 5.000.000 per tahunnya.
  1. Menciptakan Preferensi Merek pada Target Pasar
Suatu produk dapat digunakan untuk memperlihatkan  praktek bertanggung jawab sosial suatu perusahaan bisnis, memberikan alasan di luar harga dan jalur distribusi untuk memilih satu merek di atas yang lain, terutama jika target pasar peduli fokus inisiatif tertentu dan pasar adalah relatif dibeda-bedakan.
Contoh: Nike  & Produk Inovasi Lingkungan
Sampai akhir l980s, Nike melaporkan, komitmen lingkungan adalah sesuai dengan peraturan dan untuk mendukung organisasi-organisasi nirlaba lokal. Satuan tugas terkecil karyawan kemudian mendapatkan gambarannya dan   membentuk komite pengarah lingkungan.
Pada tahun 1993 kelompok ini menjadi sebuah departemen resmi disebut Tim Aksi Lingkungan Nike (N.EA.T.).  Upayanya berfokus pada kepatuhan, daur ulang, dan pendidikan, dan termasuk pembentukan program baru yang inovatif seperti program Nike Reuse-A-Shoe pada tahun 1994. Kelompok ini berkembang menjadi momentum penerapan Kebijakan Lingkungan Hidup Perusahaan Nike pada tahun 1998.  Kebijakan tersebut diumumkan baik di dalam dan di luar perusahaan, dan didukung oleh CEO Nike dan presiden, yang melakukan Nike untuk mengejar seluruh perusahaan praktek bisnis yang berkelanjutan.  Kebijakan ini menjadi alat untuk mengkomunikasikan komitmen lingkungan ruang lingkup dalamnya Nike dan kepada mereka yang memiliki kepentingan dalam kemakmuran Nike jangka panjang.
Nike terus berupaya untuk menggabungkan seluruh tanggung jawab terhadap lingkungan pada operasi dan siklus hidup produk.   Komitmen ini tercermin dalam keputusan-keputusan tentang produk dan merespon meningkatnya permintaan konsumen untuk pilihan yang berkelanjutan serta komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan.
Sebuah lambang (lihat Gambar 8.2) diperkenalkan dengan tujuan untuk berinteraksi dengan pelanggan dalam percakapan tentang kemampuan lingkungan hidup yang berkelanjutan.   Lambang  ini muncul pada produk pilihan Nike dan merupakan inovasi layanan Nike yang berfokus pada penciptaan praktik bisnis untuk lingkungan. Contohnya : program -Reuse-A-Shoe and Air To Earth- Muncul pada hangtags, material dalam, dan siaran pers untuk memilih program, logo mengarahkan orang untuk berkunjung ke www.nikebiz.com di mana mereka dapat belajar lebih banyak. Sejak September 2002, sebuah tag kapas 100 persen organik bersertifikat.
  1. Membangun Kemitraan Berpengaruh
Seperti disebutkan dalam Bab 1, Bisnis untuk Tanggung Jawab Sosial menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan terlibat dalam praktek bisnis yang bertanggung jawab dapat mengalami pengurangan pemeriksaan dari nasional maupun badan pemerintah lokal. "Dalam banyak kasus, seperti. perusahaan tunduk pada pemeriksaan yang lebih sedikit dan dokumen berkurang, dan dapat diberikan preferensi atau ‘penyelesaian jalur cepat' ketika mengajukan izin operasi, atau bentuk lain dari izin pemerintah. Pedoman Federal U S. memungkinkan hukuman dan denda terhadap perusahaan harus dikurangi atau bahkan dihilangkan jika perusahaan dapat menunjukkan telah sebagai 'warga usaha yang baik' (good corporate citizenship).
Contoh: Motorola dan Badan Perlindungan Lingkungan AS
Visi lingkungan Motorola menghimbau bagi perusahaan untuk sepenuhnya mendukung penggunaan yang berkelanjutan dari sumber daya bumi , dengan praktek-praktek bisnis yang bertanggung jawab terkonsentrasi di tiga bidang utama: melindungi tanah, melindungi udara, melestarikan air.
Sejak bergabung dengan program WasteWise pada tahun 1994, pihak manufaktur Motorola AS melaporkan telah hampir 125.000 ton melakukan daur ulang limbah.  Pada tahun 2000, Motorola adalah salah satu dari tiga perusahaan untuk dipilih oleh EPA sebagai "Tahun Mitra WasteWise untuk Bisnis Sangat Besar," ini mengakui prestasinya dalam pengurangan limbah.
Motorola juga telah mengembangkan sistem penggunaan kembali kemasan, seperti sistem CompackTM.  Dengan sistem ini menghilangkan lebih dari 140 ton sampah kemasan setiap tahun dan menghemat Motorola sekitar $ 4.300.000 per tahun.  Sistem Compack meraih "Innovation of the Month " dalam sebuah buletin US EPA Waste-Wise.
Dalam berkontribusi untuk melindungi udara, pada tahun 1992 Motorola adalah perusahaan elektronik kedua di dunia yang menghilangkan penggunaan chlorofluorocarbons (CFC) dari proses manufaktur. EPA mengakui Motorola dengan Program Stratosfera Ozon Award 1991 untuk metode inovatif tersebut.
  1. Meningkatkan Kesejahteraan dan Kepuasan Karyawan
Sebagaimana telah kita lihat, inisiatif sosial yang paling perusahaan dapat berkontribusi untuk retensi karyawan dan upaya peningkatan kepuasan, karena mereka persepsi menimbulkan kebanggaan pada perusahaan dengan reputasi yang kuat untuk membangun goodwill masyarakat.  Lebih jauh lagi, dapat menawarkan manfaat tambahan untuk benar-benar memberikan kontribusi bagi peningkatan kesehatan dan keselamatan karyawan, seperti digambarkan dalam contoh berikut.
Contoh: Intel dengan Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan
Keselamatan di Intel lebih dari sekedar inisiatif korporasi, melainkan merupakan bagian integral dari budaya perusahaan.  Sepuluh tahun sebelumnya, program dan kinerja keselamatan Intel  hanya cukup rata-rata untuk industri semikonduktor. Saat ini, program keselamatan dan kinerja Intel telah mencapai tingkat kelas dunia.  Salah satu tujuan jangka panjang untuk kesehatan lingkungan dan keselamatan adalah untuk mencegah semua cedera di tempat kerja.
Perubahan dramatis telah mensyaratkan mengubah cara orang berpikir dan bertindak terhadap keselamatan, semacam perubahan budaya  yang membutuhkan memotivasi karyawan di semua tingkatan untuk berorientasi pada keselamatan, dan adanya komitmen dari seluruh manajemen tim Intel.
Pada tahun 2001, dua manajer perusahaan di Oregon mengambil pendekatan baru untuk program keselamatan. Mereka mempertaruhkan rambut mereka.   Jika organisasi dapat menyelesaikan 500 hari tanpa cedera, mereka berjanji akan mencukur rambut mereka. Dan tujuannya tercapai, kedua manajer telah gundul kepalanya, tampil di depan orang-orang bersorak-sorai.  Kepala Intel's Worldwide Keselamatan melihat dua tema besar yang muncul dari catatan keamanan yang luar biasa di organisasi: "Mereka tidak hanya untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan keselamatan, tetapi manajemen mereka juga terlihat dan secara pribadi terlibat dalam pengaturan tantangan, dan ini membuat semua perbedaan."
Rancangan program Intel untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Keselamatan adalah program pencegahan yang berfokus pada identifikasi awal masalah keamanan.  -Hal ini diyakini bahwa "Ini intervensi awal dan bermitra dahulu dengan pemasok adalah alasan utama mengapa Intel adalah salah satu tempat teraman di industri kita untuk bekerja. "
  1. Memberikan kontribusi pada posisi merek yang diinginkan
Pada contoh berikut ini. kita dapat membayangkan bahwa keputusan sukarela perusahaan ini untuk mengubah praktik bisnis yang cenderung ke posisi merek lebih jauh sebagai salah satu sejarah panjang dengan komitmen untuk praktek lingkungan yang berkelanjutan dan tanggung jawab perusahaan.
Contoh : Sutera dan Tenaga Angin
Pada bulan Februari 2003, White Wave, produsen makanan kedelai terbesar negara dan produsen terkenal sari Sutra kedelai, mengumumkan akan menggantikan daya listrik yang digunakan dalam semua operasi dengan bersih, berkelanjutan, dengan energi angin terbarukan (lihat Gambar 8.4).  Menurut EPA, White Wave adalah “perusahaan terbesar AS yang  membeli 100 persen tenaga angin untuk semua usahanya, memberikan contoh yang luar biasa kepemimpinan di bidang lingkungan".   Sekitar 32 juta pon emisi karbon dioksida setiap tahunnya dapat dikurangi setara dengan emisi yang berasal dari 3.200 mobil.
White Wave selalu berkomitmen untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berkelanjutan dalam praktek bisnisnya," kata Steve Demo, pendiri dan presiden perusahaan.  "Kami sebelumnya telah menunjukkan hal ini melalui pengabdian kita 25 tahun ke pengolahan kedelai non-rekayasa genetika.  Hari ini, pengumuman kami untuk pembelian energi angin merupakan langkah yang sah dalam menciptakan model bisnis yang baik menguntungkan dan ramah lingkungan. Kami percaya inisiatif ini merupakan pemenuhan sebagian dari tanggung jawab kita untuk mengembalikan ke pasar sebagian dari keuntungan yang kita peroleh untuk praktek bisnis yang berarti dan lingkungan yang berkelanjutan.  Kami senang untuk melakukannya tanpa dampak ekonomi bagi konsumen. "
White Wave juga mendorong konsumen untuk membeli energi angin (promosi menyebabkan inisiatif dalam model kami). Konsumen dapat mengunjungi situs web mereka untuk belajar lebih lanjut tentang energi angin dan mendaftar untuk membeli kredit angin energi untuk digunakan di rumah.

Disarikan dari buku: Corporate Social Responsibility (Doing The Most Good For Your Company and Your Cause, Wiley ans Sons 2005)

Sketsa